Menghindari Perangkap Plagiarisme Dalam Menghasilkan Karya Tulis Ilmiah

Prof. Dr. Ir. H. Zulkarnain, M.Hort.Sc.
Fakultas Pertanian Universitas Jambi

Pendahuluan
Peraturan Pemerintah No. 60 Tahun 1999, pasal 2 ayat 1 dengan tegas menyebutkan bahwa tujuan pendidikan tinggi adalah untuk “mengembangkan dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi dan/atau kesenian serta mengupayakan penggunaannya untuk meningkatkan taraf kehidupan masyarakat dan memperkaya kebudayaan nasional”.  Rumusan ini secara eksplisit menyebutkan bahwa pendidikan tinggi mengemban tiga misi utama, yaitu mengembangkan, menyebarluaskan, dan mengupayakan penggunaan ilmu pengetahuan.  Menurut Huda (2003), pengembangan ilmu pengetahuan dilakukan melalui berbagai kegiatan penelitian, baik penelitian dosen, pustakawan dan laboran, maupun penelitian mahasiswa (dalam bentuk skripsi, tesis, disertasi); serta pengkajian dalam wujud pembahasan bahan-bahan non-empirik.  Sedangkan penyebarluasan ilmu pengetahuan dilakukan melalui berbagai kegiatan publikasi ilmiah, seperti jurnal ilmiah, prosiding, ataupun kumpulan abstrak tulisan ilmiah, baik melalui media cetak maupun elektronik (CD ROM, e-book, internet).  Sementara itu upaya penggunaan ilmu pengetahuan di kalangan masyarakat luas dilakukan melalui kegiatan pendidikan dan pengajaran serta pengabdian kepada masyarakat.

Kegiatan-kegiatan pengembangan, penyebarluasan dan pemanfaatan ilmu pengetahuan sangat menentukan kualitas perguruan tinggi sebagai suatu lembaga ilmiah, yang pada akhirnya akan menentukan kualitas lulusannya.  Ditinjau dari segi sumberdaya, kualitas suatu perguruan tinggi dapat diukur dari jumlah dosen berkualifikasi pascasarjana dan guru besar.  Kualifikasi jenjang pendidikan dan jabatan akademik mencerminkan bobot ilmu suatu perguruan tinggi yang sekaligus menjadi ukuran kualitasnya.  Agar perguruan tinggi lebih mampu mengembangkan ilmu pengetahuan, setidak-tidaknya 80% dosen pada suatu perguruan tinggi harus berkualifikasi pascasarjana (S2 dan S3). 

Sementara itu, dari sudut karya, bobot perguruan tinggi ditentukan oleh jumlah karya ilmiah bermutu yang dihasilkan.  Indikator mutu karya ilmiah dapat dilihat dari pemuatannya di jurnal ilmiah internasional atau nasional terakreditasi dan/atau seberapa sering karya tersebut dirujuk (cited) oleh penulis lain.

Satu hal penting lain yang perlu menjadi perhatian adalah setiap karya yang dihasilkan oleh dosen, baik secara perorangan maupun secara kelompok, harus bebas dari unsur-unsur plagiarisme. Tindakan plagiarisme yang dilakukan oleh dosen di perguruan tinggi telah mencapai titik yang mengkhawatirkan, sehingga Menteri Pendidikan Nasional menilai perlu adanya upaya penertiban guna menjaga kredibilitas dan martabat kaum intelektual Indonesia. Oleh karena itu, pada tahun 2010 Menteri Pendidikan Nasional menerbitkan Peraturan Menteri No. 17 tentang Pencegahan dan Penanggulangan Plagiat di Perguruan Tinggi. Tujuan diterbitkannya Peraturan Menteri No. 17 Tahun 2010 tersebut adalah untuk menumbuhkembangkan kreativitas akademik di kalangan dosen dan mahasiswa dengan menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran dan etika akademik, terutama menghindarkan diri dari tindakan plagiat.
Makalah ini membahas berbagai aspek penting yang perlu diperhatikan oleh seorang penulis untuk menerbitkan karya tulisnya di jurnal ilmiah nasional terakreditasi atau internasional bereputasi.  Pembahasan dalam makalah ini akan difokuskan pada teknik-teknik untuk menghasilkan suatu karya tulis ilmiah yang bermutu yang memenuhi standar jurnal terakreditasi dan terhindar dari tindakan plagiat.

Macam Artikel Ilmiah
Artikel ilmiah merupakan suatu hasil pemikiran, studi kepustakaan, hasil eksperimen di laboratorium atau hasil percobaan di lapangan yang dilaporkan dalam bentuk yang lebih singkat dari Laporan Akhir Penelitian namun tetap mengandung isi yang sama.  Cara penyajian artikel ilmiah sangat beragam tergantung pada bidang ilmu (sosial atau eksakta) dan macam artikel yang dipublikasikan, apakah hasil eksperimen (original article) ataukah kajian kepustakaan (review article).  Namun demikian, meskipun tidak ada format baku yang berlaku universal, suatu artikel ilmiah harus  mengandung unsur-unsur utama seperti judul artikel, identitas penulis, batang tubuh dan daftar pustaka.  Setiap majalah ilmiah menerbitkan petunjuk redaksi (instruction for authors) yang mutlak harus diikuti oleh penulis.  Oleh karenanya sangat perlu untuk mempelajari format, teknik penulisan, persyaratan administrasi serta ketentuan lainnya dari majalah yang dituju.

Secara umum, artikel ilmiah dapat dikelompokkan menjadi dua kategori yaitu artikel yang tidak/belum dipublikasikan dan artikel yang dipublikasikan.  Artikel ilmiah dari kelompok pertama misalnya laporan penelitian dengan berbagai metoda (sejarah, filsafat, deskriptif, observasi atau pun eksperimental) dan laporan penelitian berbentuk skripsi, tesis dan disertasi.  Sedangkan artikel ilmiah dari kelompok ke-dua meliputi artikel-artikel yang dipublikasikan dalam berbagai media, baik cetak maupun elektronik, seperti majalah ilmiah, prosiding hasil seminar/konferensi, buku teks, handbook dan sebagainya.  Pada makalah ini uraian akan dibatasi pada teknik penulisan artikel untuk dipublikasikan dalam majalah ilmiah nasional terakreditasi.

Anatomi Artikel untuk Berkala Ilmiah

Secara garis besar, kerangka suatu artikel ilmiah terdiri atas 3 bagian, yakni bagian awal, batang tubuh dan bagian akhir tulisan.

Bagian awal tulisan
Bagian awal suatu artikel ilmiah mencakup judul, nama penulis berikut institusi afiliasinya, abstrak dan kata-kata kunci.  Artikel ilmiah yang disajikan dalam suatu pertemuan ilmiah biasanya juga memiliki halaman muka/judul, daftar isi, daftar tabel, daftar gambar dan daftar lampiran.  Akan tetapi setelah disunting dan dijadikan prosiding pada umumnya format yang dipakai disederhanakan sebagaimana artikel di dalam majalah ilmiah.

Judul hendaknya singkat namun menarik minat untuk membaca isi artikel.  Judul yang relatif singkat tersebut hendaknya juga menggambarkan isi atau topik artikel.  Oleh sebab itu judul harus mengandung kata-kata kunci (keywords) sehingga artikel tersebut mudah ditelusuri melalui penelusuran pustaka menggunakan komputer.  Dengan demikian, judul harus dapat menggambarkan hal-hal yang spesifik dan menarik sehingga menggugah pembaca untuk menyimak isi artikel.  Akan tetapi, judul hendaknya tidak terlalu ambisius sehingga sangat menarik perhatian pembaca namun ternyata tidak didukung oleh isi artikel.

Nama penulis atau para penulis hendaknya dicantumkan secara lengkap.  Gelar akademik dapat saja dicantumkan sepanjang diperkenankan oleh ketentuan jurnal ilmiah yang dituju.  Namun secara umum kebanyakan jurnal ilmiah tidak mencantumkan gelar akademik penulis di dalam artikel-artikelnya.  Alamat institusi afiliasi atau alamat untuk korespondensi sangat dianjurkan untuk dicantumkan.  Hal ini akan sangat membantu pembaca yang menginginkan informasi lebih lanjut mengenai artikel tersebut atau pun untuk korespondensi langsung dengan penulis mengenai hal-hal yang lain.

Abstrak merupakan salah satu bagian yang wajib dibuat oleh penulis suatu artikel ilmiah.  Abstrak yang dibuat hendaknya mengemukakan hal-hal yang telah dilakukan berikut hasil-hasilnya secara singkat, padat dan informatif.  Penelitian eksperimental biasanya menekankan informasi yang bersifat kuantitatif di dalam abstraknya.  Sementara itu di dalam penelitian survey atau eksploratif penekanan dengan sendirinya pada aspek-aspek yang bersifat kualitatif dan/atau deskriptif.

Kata-kata kunci sangat berguna dalam penelusuran kepustakaan, sehingga semakin banyak kata kunci yang ditampilkan akan semakin besar peluang bagi artikel tersebut untuk muncul bila dilakukan penelusuran pustaka.  Namun biasanya, kebanyakan majalah ilmiah membatasi jumlah kata-kata kunci maksimum 6 kata kunci, karena judul artikel sebenarnya secara implisit sudah mengandung kata-kata kunci.  Oleh karenanya kata-kata kunci yang dicantumkan di dalam baris kata-kata kunci hendaknya spesifik dan berbeda dari kata-kata yang digunakan dalam menyusun judul artikel.

Batang tubuh tulisan
Bagian ini merupakan inti dari artikel ilmiah dan berisikan bagian-bagian seperti: pendahuluan, metoda penelitian, hasil dan pembahasan, dan kesimpulan dan saran.
Pendahuluan umumnya mengandung unsur-unsur latar belakang penelitian, masalah yang diteliti dan tujuan pelaksanaan penelitian.  Pencapaian tujuan penelitian umumnya dijabarkan dalam bentuk hipotesis yang akan diuji atau gejala alam/sosial yang akan diungkapkan atau bisa juga untuk mengungkapkan gagasan baru.  Kajian kepustakaan yang benar-benar relevan dengan penelitian dan mengarah pada perumusan hipotesis/tujuan penelitian dapat diuraikan dan dibahas di dalam Pendahuluan.  Bila dikaitkan dengan langkah-langkah penelitian, Pendahuluan merupakan bagian yang menampung identifikasi masalah, perumusan masalah, studi kepustakaan dan perumusan hipotesis/tujuan penelitian.

Metoda Penelitian adalah bagian di mana penulis menguraikan secara singkat namun jelas hal-hal yang berkaitan dengan teknis pelaksanaan penelitian.  Cara-cara pengumpulan data/informasi, pengambilan contoh, rancangan percobaan serta analisis data secara statistik (jika ada) dikemukakan pada bagian ini.  Dengan demikian, susunan Metoda Penelitian dapat mengandung aspek-aspek seperti: tempat dan waktu, bahan dan alat, rancangan percobaan, model statistik, variabel yang diuji, variabel yang diamati, cara pengumpulan data, cara uji statistik dan prosedur kerja penelitian itu sendiri.

Hasil dan Pembahasan pada umumnya digabung dalam satu bagian sehingga lebih padat dan dapat menghindarkan pengulangan penyampaian hal-hal yang tidak perlu (bila bagian ini dibuat terpisah).  Dapat dikatakan bahwa bagian Hasil dan Pembahasan merupakan “jantung” dari suatu artikel ilmiah karena di sinilah penulis diuji kemampuan analisisnya terhadap data/informasi yang diperoleh.  Mutu penelitiannya pun ditentukan oleh mutu data/informasi dan ketajaman analisis.  Data/informasi kuantitatif maupun kualitatif umumnya ditabulasikan dalam tabel atau disajikan dalam bentuk grafik atau bentuk lain sehinga hubungan antar variabel yang diuji menjadi sangat jelas.  Bahkan dengan cara ini sering dapat dikembangkan hubungan matematik atau statistik yang dapat dikembangkan menjadi dalil atau teori baru.

Tujuan penelitian, hipotesis dan hasil yang diperoleh dibahas dengan tuntas, baik dengan metoda analisis kuantitatif maupun kualitatif sehingga menjurus untuk diselaraskan sebagai bahan kesimpulan.  Dalam hal ini perlu ditelaah kembali keterkaitan dan sinkronisasi judul, hasil percobaan dan analisisnya serta kesimpulan yang diperoleh.

Kesimpulan dan Saran merupakan puncak sekaligus penutup dari seluruh rangkaian artikel ilmiah.  Kesimpulan hendaknya singkat, padat namun penuh arti serta informatif dengan sistematika yang sinkron dengan sistematika pembahasan hasil penelitian.  Saran tidak selalu harus ada.  Saran dapat dikemukakan apabila ada temuan yang signifikan yang diyakini dapat memberikan manfaat kepada masyarakat jika diterapkan.  Ada kalanya saran dibuat berupa rekomendasi untuk penelitian lebih lanjut yang biasanya dinyatakan secara ekspkisit maupun implisit di dalam Kesimpulan.

Bagian akhir tulisan
Bagian ini dapat sangat beragam dan berbeda antara artikel yang satu dengan artikel yang lain sekalipun di dalam majalah ilmiah yang sama.  Umumnya bagian akhir suatu tulisan terdiri atas ucapan terima kasih (acknowledgement), daftar pustaka dan lampiran.
Ucapan Terima Kasih pada dasarnya berisikan ungkapan rasa terima kasih kepada perorangan maupun institusi atas bantuan ilmiah, teknis maupun dana penelitian.  Ucapan terima kasih tidak selalu harus ada, tergantung pada seberapa jauh kepentingannya terutama dalam bantuan yang diberikan.

Daftar Pustaka merupakan bagian akhir suatu artikel ilmiah yang selalu harus ada.  Perlu diketahui, bahwa salah satu ciri dari tulisan ilmiah adalah di samping melaporkan kegiatan penelitian juga mengkaji berbagai artikel yang berisikan ide-ide ataupun hasil-hasil penelitian sebelumnya yang relevan.  Artikel-artikel yang dikutip tersebut ditulis ringkas dan disajikan dalam Daftar Pustaka.  Tata cara penulisan Daftar Pustaka sangat beragam tergantung pada ketentuan majalah ilmiah yang dituju.  Penggunaan perangkat lunak komputer seperti EndNote (ISI ResearchSoft, 2001) sangat berguna dalam menyusun Daftar Pustaka yang baik.  Apa lagi program komputer ini dilengkapi dengan Style Library yang berisi gaya penulisan Daftar Pustaka yang berlaku pada berbagai majalah ilmiah internasional, serta dapat pula dimodifikasi dan disesuaikan dengan gaya selingkung tertentu, sehingga sangat membantu penyusunan Daftar Pustaka. 

Lampiran pada umumnya berisikan kumpulan dari berbagai aspek yang berkaitan dengan artikel yang ditulis yang kalau dibuang dapat mengurangi nilai atau kejelasan artikel yang bersangkutan, namun dapat mengganggu kesinambungan tulisan bila dimasukkan ke dalam batang tubuh tulisan.  Lampiran dapat berupa tabel data/informasi, grafik, gambar dan sebagainya.
Secara ringkas dapat dikatakan bahwa suatu artikel ilmiah yang diterbitkan dalam suatu majalah ilmiah atau prosiding pertemuan ilmiah hendaknya memenuhi kriteria sebagai berikut, pertama: mengemukakan masalah yang akan dicari jawabannya, dipertegas oleh tujuan yang pada dasarnya untuk menjawab hipotesis atau mengungkapkan gejala/fenomena alam atau sosial atau bahkan hanya sekedar mengungkapkan suatu pandangan atau gagasan yang dianggap baru, kedua: menggunakan metoda ilmiah baku yang sistematik dan runtut dalam mencari jawaban teoritik/logik ataupun empirik terhadap permasalahan yang diajukan sehingga analisis data dapat dilakukan secara objektif, ketiga: mengungkapkan kesimpulan yang diperoleh, baik berupa hal-hal yang sama sekali baru atau hanya sekedar membenarkan atau membantah suatu kesimpulan yang sudah ada sebelumnya, keempat: selalu berpegang pada prinsip kejujuran, terutama dalam mengungkapkan data/informasi, kelima:  ditulis secara sistematik dan runtut mengikuti aturan atau ketentuan yang telah menjadi kesepakatan para ilmuwan, dan menggunakan bahasa resmi (Indonesia atau Inggeris) yang baku, jelas dan dimengerti oleh khalayak sasaran artikel tersebut.

Plagiarisme dan Cara Menghindarinya
Batasan Plagiat/Plagiarisme
Pasal 1 butir 1 Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 17 Tahun 2010 secara jelas menyatakan bahwa “Plagiat adalah perbuatan secara sengaja atau tidak sengaja dalam memperoleh atau mencoba memperoleh kredit atau nilai untuk suatu karya ilmiah, dengan mengutip sebagian atau seluruh karya dan/atau karya ilmiah pihak lain yang diakui sebagai karya ilmiahnya, tanpa menyatakan sumber secara tepat dan memadai”. Selanjutnya, Pasal 2 Ayat (1) berbunyi: “Plagiat meliputi tetapi tidak terbatas pada:

  • Mengacu dan/atau mengutip istilah, kata-kata dan/atau kalimat, data dan/atau informasi dari suatu sumber tanpa menyebutkan sumber dalam catatan kutipan dan/atau tanpa menyatakan sumber secara memadai;
  • Mengacu dan/atau mengutip secara acak istilah, kata-kata dan/atau kalimat, data dan/atau informasi dari suatu sumber tanpa menyebutkan sumber dalam catatan kutipan dan/atau tanpa menyatakan sumber secara memadai;
  • Menggunakan sumber gagasan, pendapat, pandangan, atau teori tanpa menyatakan sumber secara memadai;
  • Merumuskan dengan kata-kata dan/atau kalimat sendiri dari sumber kata-kata dan/atau kalimat, gagasan, pendapat, pandangan, atau teori tanpa menyatakan sumber secara memadai;
  • Menyerahkan suatu karya ilmiah yang dihasilkan dan/atau telah dipublikasikan oleh pihak lain sebagai karya ilmiahnya tanpa menyatakan sumber secara memadai.

Sementara itu, Council of Writing Program Administrators (2003) mengemukakan definisi plagiarisme sebagai berikut: “In an instructional setting, plagiarism occurs when a writer deliberately uses someone else’s language, ideas, or other original (not common-knowledge) material without acknowledging its source”. Jadi, secara sederhana, dapat dikatakan bahwa plagiat/plagiarisme adalah tindakan mempublikasikan karya/gagasan orang lain yang diakui sebagai karya sendiri.

Macam Plagiarisme
Ada dua macam tindakan plagiat yang dijumpai dalam karya tulis ilmiah, yaitu plagiarisme tidak sengaja (inadvertent plagiarism) dan plagiarisme yang disengaja (deliberate plagiarism). Plagiarisme tidak disengaja adalah plagiarisme yang terjadi karena ketidaktahuan (ignorancy) penulis terhadap perkembangan ilmu yang menjadi bidang spesialisasinya. Plagiarisme tidak disengaja dapat pula terjadi akibat ketidakpahaman penulis dalam melakukan pengutipan dan penulisan sumber kepustakaan. Sementara itu, plagiariasme yang disengaja adalah perbuatan yang secara sengaja menjiplak karya ilmiah orang lain untuk dipublikasikan sebagai hasil karya sendiri. Baik tidak disengaja maupun disengaja, suatu plagiat tetaplah dipandang dan diperlakukan sebagai plagiat, apapun alasan yang dikemukakan oleh pelakunya (plagiator).

Sanksi bagi Pelaku Plagiarisme

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 17 Tahun 2010 mengatur tingkatan sanksi dari yang paling ringan sampai paling berat bagi pelaku plagiat sebagaimana dinyatakan dalam Pasal 12 sebagai berikut:
1.    Apabila yang terbukti melakukan plagiat adalah mahasiswa, maka sanksi yang dijatuhkan dapat berupa:
a.    teguran;
b.    peringatan tertulis;
c.    penundaan pemberian hak sebagai mahasiswa;
d.    pembatalan satu atau beberapa nilai yang diperoleh mahasiswa;
e.    pemberhentian dengan hormat dari status sebagai mahasiswa;
f.    pemberhentian tidak dengan hormat dari status sebagai mahasiswa;
g.    pembatalan ijazah apabila mahasiswa telah lulus dari suatu program.
2.    Apabila yang terbukti melakukan plagiat adalah dosen, maka sanksi yang dijatuhkan dapat berupa:
a.    teguran;
b.    peringatan tertulis;
c.    penundaan pemberian hak dosen;
d.    penurunan pangkat dan jabatan akademik/fungsional;
e.    pencabutan hak untuk diusulkan sebagai guru besar bagi yang memenuhi syarat;
f.    pemberhentian dengan hormat dari status sebagai dosen;
g.    pemberhentian tidak dengan hormat dari status sebagai dosen;
h.    pembatalan ijazah yang diperoleh dari perguruan tinggi yang bersangkutan.
3.    Apabila yang terbukti melakukan plagiat adalah dosen dengan jabatan akademik/fungsional Guru Besar, maka dosen yang bersangkutan dijatuhi sanksi tambahan berupa pemberhentian dari jabatannya sebagai Guru Besar.

Upaya Menghindari plagiarisme

Sebagai upaya mencegah dan menghindari terjadinya praktek plagiarisme di perguruan tinggi, pemerintah melalui Pasal 7 Ayat (1) Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 17 Tahun 2010 telah menetapkan bahwa setiap karya ilmiah yang dihasilkan di lingkungan perguruan tinggi harus dilengkapi dengan pernyataan (dan ditandatangani) yang menyatakan bahwa karya ilmiah tersebut bebas plagiat, dan apabila di kemudian hari terbukti adanya unsur plagiasi dalam karya tersebut maka penyusunnya bersedia menerima sanksi sesuai ketentuan yang berlaku. Di samping itu, sebagaimana dinyatakan pada Ayat (2) pasal yang sama, pimpinan perguruan tinggi berkewajiban mengunggah semua karya ilmiah yang dihasilkan di lingkungan perguruan tingginya ke titik akses elektronik karya ilmiah dosen dan mahasiswa, seperti portal Garuda (Garba Rujukan Digital) atau portal lain yang ditetapkan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi.
Selain kepatuhan  pada koridor hukum yang disebutkan di atas, upaya lain yang dapat dilakukan untuk menghindari plagiarisme, khususnya plagiarisme secara tidak disengaja, adalah: 1) senantiasa taat asas pada gaya selingkung, 2) melakukan pengutipan (menyitir) secara langsung, dan 3) melakukan parafrasa terhadap kutipan yang dirujuk.

Gaya Selingkung
Setiap institusi akademik dan lembaga penerbitan berkala ilmiah yang terakreditasi dan bereputasi internasional pasti memiliki Gaya Selingkung penulisan artikel.  Secara ringkas biasanya gaya selingkung tersebut dicantumkan pada setiap akhir nomor suatu penerbitan, berupa Petunjuk Bagi Penulis atau Instruction for Authors.
Oleh karena setiap berkala ilmiah menerapkan gaya selingkung sendiri, maka hendaknya penulis naskah benar-benar memperhatikan gaya selingkung tersebut.  Hal ini dimaksudkan untuk membantu Tim Editor dan Mitra Bestari dalam menseleksi dan mengevaluasi artikel tersebut.  Suatu artikel yang dengan sempurna mengikuti gaya selingkung yang berlaku, maka akan semakin cepat proses penelaahannya dan semakin besar peluang untuk diterbitkan dalam waktu singkat, sepanjang secara substantif artikel tersebut telah memenuhi persyaratan untuk publikasi.  Sebaliknya, suatu artikel yang tidak mengikuti gaya selingkung akan dikembalikan untuk diperbaiki sesuai ketentuan, atau bahkan ditolak bila substansinya tidak memenuhi syarat.

Menyitir Langsung
Yang dimaksud dengan menyitir langsung adalah menyalin seluruh isi paragraf, seluruh kalimat atau satu (atau beberapa) frase secara langsung dan menuliskannya kembali (copy and paste, copas) di antara dua tanda petik. Akan tetapi kutipan langsung dalam suatu tulisan harus menduduki porsi yang logis, sehingga tulisan tersebut bukan sekedar kliping dari beberapa sumber tulisan. Ide (gagasan) dari penulis tetap menempati porsi utama yang lebih besar daripada ide pendukung yang diperoleh dari sumber kepustakaan. Paragaf, kalimat ataupun frase boleh dikutip secara langsung apabila berada dalam situasi berikut:
1.    Parafrasa terhadap sumber asli dapat menimbulkan salah penafsiran, misalnya kata-kata atau kalimat dalam produk hukum positif atau perundang-undangan atau asumsi-asumsi yang melandasi prosedur statistik yang spesifik.
2.    Area catatan kaki (footnote) tidak mencukupi bagi penulis untuk untuk menuliskan seluruh kalimat yang disitir.
3.    Rumus matematika, statistika, astronomi, dan rumus-rumus ilmiah lain, serta dalil, teori atau hukum ilmiah.
4.    Ayat-ayat yang berasal dari kitab suci (Al Qur’an, Injil, dan lain-lain) atau bunyi hadist-hadist.
5.    Gagasan atau ide dari penulis lain (yang dikutip) yang ingin dikomentari atau dibantah atau dikritisi.
6.    Kalimat atau kata-kata asli pengarang yang telah diungkapkan secara ringkas dan sangat meyakinkan, sehingga tidak mungkin lagi untuk melakukan parafrasa terhadap kalimat atau kata-kata tersebut.

Parafrasa
Parafrasa adalah suatu upaya mengungkapkan kembali suatu pernyataan, baik berupa dari satu paragraf maupun satu kalimat, menjadi bentuk paragraf atau kalimat lain tanpa merubah makna (ide/gagasan) yang terkandung di dalamnya. Prafrasa dapat dilakukan dalam satu bahasa atau dari bahasa satu ke bahasa lain (diterjemahkan dan langsung diparafrasakan). Parafrasa dapat dikatakan sebagai suatu bentuk penyitiran tidak langsung (perlu diingat: tatakalimat dan/atau kosa kata yang digunakan berbeda dari aslinya). Berbeda dengan penyitiran langsung, penulisan parafrase tidak memerlukan tanda petik.
Bagi seorang dosen/peneliti, melatih keterampilan membuat parafrasa adalah suatu upaya yang sangat penting untuk menghasilkan karya ilmiah bermutu yang bebas dari unsur-unsur plagiarisme. Dalam banyak hal, khususnya di bidang ilmu eksakta, parafrase lebih baik dan lebih banyak dilakukan daripada penyitiran langsung. Kelebihan penggunaan parafrasa adalah dapat membantu penulis meningkatkan kreativitas redaksionalnya dan mengendalikan kecenderungan untuk tidak terlalu banyak mengutip yang dikhawatirkan akan berujung pada plagiarisme.
Dalam membuat suatu tulisan ilmiah menggunakan parafrasa, seorang penulis harus mampu mengungkapkan kembali bagian yang dikutip dengan gaya bahasanya sendiri tanpa mengubah makna yang terkandung di dalam kutipan tersebut. Untuk itu, penulis perlu membaca dan memahami isi sumber kutipan secara menyeluruh dan rinci, sehingga dapat difahami maknanya dan akan mudah menuliskannya kembali dengan gaya bahasa dan kalimat sendiri. Berikut ini adalah beberapa tahapan yang dapat diikuti dalam melakukan parafrasa:

  1. Sumber kepustakaan yang akan disitir hendaknya dibaca secara berulang-ulang dan seksama sehingga substansi ide/gagasannya benar-benar teridentifikasi dan dapat dipahami.
  2. Substansi ide/gagasan yang berhasil diidentifikasi selanjutnya ditulis kembali dengan gaya bahasa sendiri tanpa melihat sumber aslinya untuk menghindari ”kontaminasi” kosa kata.
  3. Periksa kembali tatabahasa dari tulisan hasil parafrasa dan perbaiki (bila diperlukan) sesuai dengan kaidah Bahasa Indonesia yang baik dan benar, lalu sandingkan dengan sumber aslinya untuk melihat apakah masih ada kemiripan tatabahasa (redaksional).
  4. Bila diperlukan, minta bantuan seorang kolega untuk membaca naskah tulisan yang telah dibuat agar mendapatkan second opinion yang adil.

Parafrase akan sangat membantu penulis (dosen dan mahasiswa) memahami apa yang telah dibaca dan dikutip, sehingga akan mempermudah dalam menjawab setiap pertanyaan yang diajukan yang terkait dengan materi tulisannya. Oleh karena itu, parafrasa bukan hanya sekedar meringkas gagasan/ide dari tulisan orang lain, namun dapat pula berarti mengembangkan ide/gagasan penulis lain. Melakukan parafrasa tidak sama dengan mengedit; dengan kata lain, mengedit bukan melakukan parafrasa. Namun demikian, baik mengedit maupun melakukan parafrasa keduanya melibatkan ”permainan kata-kata” dan menuntut perbendaharaan kosa kata serta pemahaman tatabahasa yang baik dari seorang penulis. Beberapa teknik yang dapat dimanfaatkan untuk melakukan parafrasa adalah:
1.    Menggunakan sinonim untuk mengubah kalimat, misalnya:
•    Penggunaan air tanah secara berlebihan akan menyebabkan kekeringan yang berkepanjangan.  
•    Penggunaan air tanah secara tidak terkendali akan menimbulkan bencana kekeringan untuk jangka waktu yang lama.
2.    Merubah bentuk kata, misalnya:
•    Penggunaan air tanah secara berlebihan akan menyebabkan kekeringan yang berkepanjangan.
•    Bencana kekeringan yang berkepanjangan dapat terjadi akibat penggunaan air tanah secara berlebihan.
3.    Merubah bentuk kalimat dari aktif ke pasif atau sebaliknya, misalnya:
•    Penggunaan air tanah secara berlebihan akan menyebabkan kekeringan yang
•    Kekeringan yang berkepanjangan dapat disebabkan oleh penggunaan air tanah yang berlebihan.
4.    Menggunakan dan/atau merubah kata hubung, misalnya:
•    tetapi (akan tetapi)
•    di lain pihak
•    sementara itu
•    oleh karena itu (oleh sebab itu)

Penutup
Baik menyitir secara langsung ataupun melakukan parafrasa, keduanya harus dilengkapi dengan sumber pustaka yang dicantumkan di depan ataupun di belakang kalimat ataupun frasa yang disitir. Tatacara mencantumkan sumber kepustakaan, baik di dalam teks (naskah) maupun dalam daftar pustaka tidak selalu sama antar institusi atau media publikasi. Namun kepatuhan terhadap aturan (gaya selingkung) yang ditetapkan oleh institusi atau penerbit tetap harus dipenuhi dan diikuti secara konsisten.
Sedangkan hal-hal yang tidak memerlukan sitasi di antaranya adalah sebagai berikut:
1.    Pengetahuan yang sifatnya umum, yaitu pengetahuan yang sudah diketahui secara luas oleh masyarakat dan dijumpai dalam berbagai sumber kepustakaan, misalnya tanggal-tanggal bersejarah, hari-hari besar nasional/internasional, ibu kota suatu negara atau provinsi atau kabupaten.
2.    Teori dan argumen yang telah dikenal secara umum, misalnya Teori Darwin, Hukum Archimedes, Hukum Mendel, dal lain-lain.
3.    Peribahasa yang umum dan telah dikenal sejak lama, petatah-petitih yang berlaku di masyarakat, kata-kata mutiara yang tidak diketahui lagi siapa penciptanya, dan sebagainya

Share

Recommended Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WP Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com