Fakultas Ekonomi Hadirkan Menteri BUMN

Mendalo, SU- Bertempat di Ruang Aula Lt.III Unja Mendalo, Sabtu (18/5) mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Jambi mengadakan acara bincang-bincang bersama Dahlan Iskan.
Dalam kedatangannya kali ini, jadwal Dahlan sangat padat, sebelum menuju Kampus Pinang Masak Universitas Jambi, Dahlan terlebih dahulu menuju kantor PTPN VI untuk menandatangani MoU peremajaan karet dengan para petani. Kemudian Dahlan juga harus mengisi dialog bersama mahasiswa Unja yang waktunya sangat pendek sekali. Malamnya harus berdiskusi dengan pengusaha dan warga Thionghoa Jambi. Besoknya harus ikut senam dan mengikuti gerak jalan sehat di Kantor Gubernur Jambi.

Setibanya di Universitas Jambi tanpa banyak basa basi Dahlan langsung memanfaatkan waktu yang sempit untuk berdialog dengan ratusan mahasiswa Unja Fakultas Ekonomi yang sudah sejak lama menunggu kedatangan Dahlan. Dahlan pun minta maaf kepada mahasiswa atas keterlambatannya.

“Saya pagi tadi dari Pontianak, bersyukur bisa sampai ke Jambi, mobil saya terbenam di lumpur saat berkunjung ke Pontianak, “katanya.
Hadir juga dalam acara ini Gubernur Jambi Hasan Basri Agus, purek I Dr. Drs. Maizar Karim, M.Hum, civitas akademika Unja dan mahasiswa Unja.
Banyak hal yang dibahas Dahlan bersama mahasiswa, mulai dari masalah ekonomi, bisnis hingga soal pencapresan dirinya. Mengenai buruknya harga sawit, Dahlan menyampaikan agar mahasiswa menyiapkan diri agar lebih kreatif. Berusaha mencari makan dengan banyak piring. Artinya, tidak hanya mengandalkan dan menggantungkan hidup dengan satu usaha. Sehingga, kalau harga sawit jatuh, masih ada penghidupan dan pekerjaan yang lain.

Dahlan lalu memberi contoh soal program peremajaan sawit yang tengah digulirkan oleh PTPN VI bersama petani. Dengan program itu, petani diyakininya tidak lagi tergantung dengan harga sawit. Petani didorong untuk kreatif dan mencari peluang hidup lain.
Soal pencapresan dirinya, Dahlan seperti terlihat enggan menanggapi. Tapi, kata dia, kalau ditanya siap atau tidak, ya tentu siap. Untuk membangun bangsa ini memang dibutuhkan kesiapan. Tapi, lanjutnya masalahnya adalah pencalonan presiden butuh perahu partai politik. Sedangkan dia bukan anggota partai politik. Apalagi calon independen belum bisa diakomodir. “ya…kita lihat saja nanti ya. Untuk jadi capres harus ada dukungan dari parpol, “katanya.
Ada peristiwa menarik saat itu. Dahlan tiba-tiba meminjam almamater seorang mahasiswa dan langsung mengenakannya. Selama berdiskusi, Dahlan seperti layaknya mahasiswa saja. Usai acara, Dahlan bukannya mengembalikan almamater kepada pemiliknya. Dia mengutarakan niatnya untuk memiliki almamater tersebut. “ambil saja pak. Saya senang almamater kebanggaan saya dipakai bapak. Menteri lagi, “kata mahasiswa itu.

Namun Dahlan enggan menerima pemberian secara cuma-Cuma. Dia terus memaksa untuk membeli almamater itu. Tapi, mahasiswa itu ngotot dan tidak mau menjualnya. Dia ikhlas menyerahkan almamater itu kepada Dahlan. Akhirnya Dahlan langsung menyerahkan uang Rp. 1 juta kepada mahasiswa tersebut sebagai rasa terima kasih dan persaudaraan.
Menariknya lagi sebanyak enam mahasiswa yang bertanya, langsung mendapat hadiah dari Dahlan berupa uang masing-masing 1 juta. (Yul)

Share

Recommended Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *