Profil

Depan
Fakultas
Pascasarjana
UPT. Komputer
Perpustakaan
Pusat Layanan Jaringan
Lembaga Penelitian
LPM

Pengunjung

Saat ini ada 2 tamu-tamu online
Jumlah pengunjung sejak 01 Januari 2007 : 3810613 orang

Penelitian

Kepada Yth. Ketua Peneliti Program Hibah Desentralisasi
    
Menindaklanjuti surat dari DP2M nomor 3343/E5.2/PL/2014 tanggal 21 Oktober 2014 tentang Penetapan Evaluasi Kelayakan Penelitian Desentralisasi dan Kompetitif Nasional Tahun 2014, bersama ini kami sampaikan bahwa Evaluasi Kelayakan Program Hibah Desentralisasi akan dilaksanakan pada :
Baca lebih lanjut...
 

Formulir MONEV Program PNBP UNJA di serahkan paling lambat tanggal 21 November 2014 ke Lembaga Penelitian Universitas Jambi.

Download :  Formulir MONEV Program PNBP UNJA 2014

Baca lebih lanjut...
 

Berikut ini dapat di unduh Format Usulan Penelitian Kelompok untuk Dosen Universitas Jambi

Baca lebih lanjut...
 

Info Lelang

 

 Pengumuman Lelang Umum dengan Pascakualifikasi

Nomor : 07/UN21/ULP-UNJA/2014

Pengadaan Peralatan Laboratorium Dasar

FSAINTEK dan FATETA

 

Baca lebih lanjut...
 

Depan
Adrizal Postdoc dari Universitas Jambi

Pada Department of Poultry Science-The Pennsylvania State University (PSU), Pennsylvania, USA 

Mendalo, SU-
Peningkatan kualitas mutu pendidikan terus dilakukan dalam menciptakan lulusan terbaik. Salah satu upaya yang dilakukan Universitas Jambi dalam meningkatkan sumber daya manusia yang handal, seperti yang dilaksankan Ir. Adrizal, MSc., PhD. Dosen Fakultas Peternakan UNJA yang baru-baru ini selesai melaksanakan Postdoctoral Research Scholar: Mitigasi Gas Amonia (Nh3) Pada Peternakan Ayam di Amerika Serikat.
Berikut penuturan pengalaman beliau di Amerika Serikat kepada Tabloid Suara Unja pada hari Senin, 22 Desember 2008. Postdoc adalah suatu jenjang pelatihan yang diberikan kepada karyasiswa pasca doktoral  (sudah S3) untuk menambah wawasan, pengalaman, dan kemandirian penelitian. Pengalaman postdoc seringkali dijadikan syarat tambahan ketika seseorang melamar pekerjaan sebagai peneliti/dosen di  manca negara. Oleh karena sifatnya non gelar, jangka waktu postdoc bergantung kepada profesor/universitas pengundang dan sumber dana penelitian. Seringkali suatu riset holistik (menyeluruh) memerlukan waktu yang lama. Dengan tugas utama merancang, melaksanakan, menganalisis sampel (laboratorium) dan data (statistik) hasil riset, karyasiswa postdoc diharuskan menghadiri pertemuan internasional dan mempresentasikan hasil risetnya serta menulis makalah untuk tujuan publikasi.
Sesuai visi-misi Diknas, karyasiswa postdoc diharapkan bisa menjadi mediator kerjasama akademik/riset dengan institusi asing untuk meningkatkan kompetisi global perguruan tinggi lokal. Ini bisa diwujudkan bila ada komitmen dari kedua universitas dan segera dilanjutkan dengan pembicarakan program-program mutualisme.
Berikut ini adalah sekelumit informasi pengalaman postdoc penulis di Department of Poultry Science-The Pennsylvania State University (PSU), Pennsylvania, USA (2004-2008). Kesempatan postdoc penulis peroleh melalui pelamaran dan setelah semua syarat akademik (proposal riset, publikasi internasional, rekomendasi profesor, dan kemampuan bahasa)  dievaluasi dan disetujui. Bidang riset postdoc yang penulis tekuni adalah Upaya Mitigasi Gas Amonia (NH3) pada Peternakan Ayam.
Dalam satu dasawarsa belakangan ini negara-negara di Eropah dan Amerika sudah sangat serius membahas dan mencari solusi mengatasi efek buruk emisi NH3 dari kegiatan usaha pertanian-peternakan, khususnya peternakan unggas/ayam. Zat asal (substrat) pembentukan NH3 pada peternakan ayam adalah nitrogen (N), terutama asam urat, yakni suatu zat hasil metabolisme protein ransum yang dikonsumsi ayam yang dikeluarkan bersama manur/kotorannya. Hasil peneilitian menunjukkan bahwa penggunaan protein/N pada ayam petelur hanya sekitar 34% dan pada ayam pedaging 51%, sedangkan sisanya terbuang bersama manur dan terlepas ke udara/atmosfer (Tabel). Dengan sistem kandang tertutup (Gambar 1) dan jumlah ayam pelihara mencapai jutaan ekor per lokasi, banyaknya manur yang diproduksi adalah isu yang meresahkan bagi peternakan dan lingkungan di Amerika dan Eropah. Penyingkiran manur dari kandang biasanya dilakukan untuk jangka waktu lama (mis: 1 tahun) demi efisiensi biaya. Konsekuensinya adalah terjadinya tumpukan manur di kandang dengan potensi produksi dan emisi NH3 yang sangat besar. Melalui kipas-kipas sirkulasi udara, tidak hanya NH3 yang terbuang dari kandang melainkan juga polutan lain seperti debu (partikel manur dan bulu), senyawa organik volatil, endotoksin/mikroba patogen, gas (CH4, N2O, NOx, H2S), dan bau yang sangat iritan terhadap lingkungan.
Sebenarnya, pada kadar yang sangat kecil NH3 sudah diproduksi dalam tubuh ayam lewat kerja mikroba usus, tetapi kontribusinya terhadap kadar NH3 di udara sangat kecil. Kontribusi nyata NH3 dari peternakan ke udara adalah berasal dari tumpukan manur, juga akibat kerja mikroba. Pada prinsipnya mikroba ini menghasilkan beberapa enzim, diantaranya urikase dan urease yang menguraikan asam urat dalam manur menjadi NH3 (Gambar 2). Kelembaban kandang yang tinggi (becek dan kurang ventilasi) dan suhu yang rendah sangat besar perannya dalam meningkatkan sintesis dan emisi NH3 dari manur. Menciptakan suasana asam pada manur adalah esensi usaha menekan aktifitas mikroba sehingga menekan produksi NH3. Kadar NH3 di pagi hari di kandang ayam sistem tertutup bisa mencapai 100 ppm hingga beberapa ratus ppm, sementara kadar yang dapat dibenarkan/ditoleransi adalah kurang dari 25 ppm. Kosentrasi NH3 yang tinggi dalam kandang meyebabkan penurunan berat badan, produksi telur, efisiensi penggunaan ransum, dan kesehatan/imunitas ayam sehingga rentan terhadap infeksi penyakit lain. Lamanya waktu yang dihabiskan pekerja di dalam kandang juga berpotensi meningkatkan resiko terinfeksi penyakit saluran pernapasan/bronkhitis, apalagi bila pekerja tidak dilengkapi perlindungan pakaian/masker (biosekuriti) yang memadai. Kosentrasi NH3 yang tinggi di udara dapat menyebabkan hujan asam, eutrofikasi (akumulasi N di kolam/sungai sehingga menyuburkan alga dan mengurangi kadar oksigen air), dan meningkatkan kadar keasaman tanah dan air tanah sehingga merusak tatanan ekosistem.
Pendekatan holistik usaha mitigasi NH3 pada peternakan ayam mulai dari HULU, PROSES, hingga ke HILIR adalah metode yang penulis gunakan selama penelitian postdoc (Gambar 3). Oleh karena prekursor (substrat) NH3 adalah unsur N dari protein/asam-asam amino yang berasal ransum yang dikonsumsi ayam, maka pada tingkat HULU dilakukan modifikasi nutrisi ransum, yakni menggunakan Asam Keto sebagai pengganti asam amino dalam ransum. Asam keto memiliki struktur yang sama dengan asam amino tetapi tidak mengandung unsur N maupun gugus amino (NH2). Walaupun demikian, ia merupakan prekursor asam amino melalui proses transaminase dalam tubuh ternak. Metode ini berhasil menurunkan kadar N dalam manur hingga 27%. Pada tahap hulu juga telah dan sedang dilakukan ujicoba pemberian ransum mengandung limbah pembuatan etanol berasal jagung (DDGS). Sifat keasaman DDGS diperkirakan mampu menekan aktifitas mikroba pembentuk NH3. Jika ini berhasil DDGS akan menjadi pakan alternatif yang baik dan murah karena tingginya permintaan jagung untuk biofuel/etanol yang akan meningkatkan produksi dan ketersediaan DDGS di pasar. Di beberapa daerah di tanah air yang sudah dibangun pabrik etanol menggunakan pati (bijian dan umbi), DDGS dapat dimanfaatkan untuk pakan alternatif.
Pada tingkat PROSES (unggas), telah dilakukan upaya menstimulir pembentukan zat antibodi (Gambar 4) dalam tubuh ayam bibit sehingga bisa memblokir kerja enzim urikase dan urease. Diharapkan anak-anak ayam yang dihasilkan dari induk inipun dapat memiliki antibodi yang sama dengan induknya sehingga potensi pengurangan pembentukan NH3 sudah di mulai sejak dini. Pada tahap proses ini pula sudah berhasil diekstrak/dipanen Antibodi Pemblokir Urikase dan Urease dari kuning telur ayam petelur komersial. Hanya saja, tahap aplikasinya pada manur atau campuran ransum ayam belum sempat dilakukan karena penulis harus kembali ke tanah air. Kemungkinan besar bila produk (antibodi) ini dipatenkan ia akan menjadi milik perguruan tinggi tempat penulis magang.
Pada tingkat HILIR, paling sedikit ada 2 upaya yang telah dilakukan. Yang pertama adalah memberikan perlakuan asam kepada manur sehingga menghambat kerja bakteri pembentuk NH3. Natrium bisulfit adalah salah satu senyawa kimia relatif tidak berbahaya bagi lingkungan yang sangat efektif dalam usaha ini sekaligus mengurangi aktifitas lalat. Usaha yang ke dua adalah menanam pohon yang cocok di sekitar kandang khususnya dibawah aliran udara/downstream kipas sirkulasi (Gambar 5: c & d). Hasil ujicoba laboratorium, skala kecil peternakan, hingga ke peternakan komersial menunjukkan bahwa pohon-pohon dengan daun lebar dan leguminosa pohon sangat baik menangkap N-NH3 dari udara. Pepohonan dan perdu dengan porositas (kerapatan) daun yang tinggi baik sebagai penangkap partikel debu kandang, khususnya partikel/particulate matter (PM) yang berukuran <10 mikron. Debu seukuran ini sangat mudah terhirup dan menyebabkan infeksi saluran pernapasan pada unggas dan manusia.  Penanaman pohon di bawah aliran udara kipas sirkulasi kandang juga efektif mendispersi bau kandang sehingga udara yang terlepas dari areal kandang menjadi lebih bersih. Selain itu, pepohonan sangat potensial sebagi filter hidup terhadap kemungkinan transmisi virus dari kandang ke pemukiman sekaligus memperindah areal kandang dan lingkungan.
Sebagian besar hasil-hasil penelitian postdoc ini dipublikasi di Journal of Applied Poultry Research (3), Journal of Environmental Science & Health-B (3), dan beberapa manuskrip lagi sedang dalam proses publikasi di Poultry Science (4). Diseminasi dalam bentuk poster, prosiding, dan presentasi pada pertemuan internasional juga sudah dilakukan antara lain pada pertemuan tahunan Poultry Science Association, Agriculture Air Quality Symposium, International Poultry Scientific Forum, seminar regional/lokal, dan seminar universitas (PSU).
Dari hasil-hasil riset di atas dapat dirancang suatu konsep/model peternakan ayam yang ekologis, yakni suatu kandang dengan pepohonan selektif yang ditanam dengan kepadatan dan orientasi tertentu sebagai penyangga (buffer) untuk mengurangi emisi NH3 ke udara (lihat Gambar 5). Model kandang seperti ini akan memberikan hasil signifikan dalam mereduksi emisi NH3 bila diikuti dengan program pemberian ransum yang sudah dimodifikasi dan dilanjutkan dengan pemberian perlakuan asam atau pengkomposan terhadap manur. Penerapan strategi holistik seperti ini merupakan partisipasi peternak untuk menurunkan tingkat polusi udara sekaligus mengurangi pemanasan global sehingga menciptakan lingkungan yang sehat. Sebagai ilustrasi komparatif (di Amerika Serikat), peternakan dengan 33.000 ekor ayam petelur yang menghasilkan 45 kg NH3 per hari wajib mempunyai perencanaan pengelolaan manur dan tunduk kepada UU Kebersihan Udara dan Air. Mencermati data populasi ayam ras petelur dan pedaging nasional (BPS dan Ditjenak, 2007) diperkirakan sekitar  1.112 ton manur per tahun dapat dihasilkan. Jika peternakan ayam komersial di Jambi menyumbang 0.5% saja maka akan diperoleh angka 5,7 ton NH3 per tahun atau sekitar 15 kg NH3 per hari yang lepas ke udara berasal Jambi. Walaupun lebih kecil dari contoh di atas, angka ini belum memperhitungkan populasi ayam kampung.
Ir. Adrizal, MSc., PhD. (Fakultas Peternakan UNJA)

 
< Sebelumnya   Berikutnya >
Larger FontSmaller Font