|
"GURU HARUS PENUH KASIH SAYANG"  Dalam rangka meningkatkan profesionalisme dan paradigma baru dalam pembelajaran, Program Studi Magister Teknologi Pendidikan Program Pascasarjana UNJA, kembali mengadakan seminar nasional dengan tema, “Menjadi Guru Profesional Melalui Pembaharuan Paradigma Pembelajaran”. Pada seminar kali ini Program MTP menghadirkan pembicara Prof. D. I Nyoman Sudana Degeng, guru besar Universitas Negeri Malang, yang merupakan ahli dalam bidang teknologi pembelajaran. Selain menghadirkan Degeng, hadir pula Dr. Unifah Rasyidi, M.Pd, dari Universitas Negeri Jakarta, yang merupakan praktisi dan Pengurus Pusat PGRI. Seminar yang berlangsung pada 29 Mei 2010 di Gedung Rektorat Kampus UNJA Mendalo Darat, berlangsung secara antusias dan penuh kebermaknaan. Seminar diawali dengan pengarahan dari Rektor UNJA, H. Kemas Arsyad Somad, SH., MH. Rector berpesan, agar para pendidik secara sadar dan terus menerus meningkatkan profesionalisme dan menyesuaikan diri secara cepat dengan perubahan-perubahan paradigm dalam dunia pendidikan dan pembelajaran. Dengan demikian guru akan menjadi mitra siswa dan mitra masyarakat yang peduli dalam pembangunan SDM Indonesia. Sementara itu, Prof. Degeng berbicara mengusung paradigma baru dalam pembelajaran saat ini. Profesor yang baru pertama kali datang ke “Bumi Sepucuk Jambi Sembilan Lurah” ini, menyampaikan materi dengan santai, “teduh” dan penuh keakraban ini, mampu membawa peserta seminar hanyut ke dalam paradigm baru yang harus dibawa ke dalam kelas saat proses pembelajaran. Paradigma baru yang dimaksudkan Degeng, adalah paradigm “konstruktivisme”. Pola pembelajaran saat ini harus secara berangsur-angsur meninggalkan pola belajar “behavioristik” yang selama ini dianut. Siswa tidak bisa dan tidak seharusnya lagi dijejali dengan pengetahuan-pengetahuan dan konsep-konsep yang secara langsung ditransfer dari gurunya. Tetapi, paradigm konstruktvistik menghendaki, agar siswa dapat menemukan sendiri, membuat sendiri, dan merumuskan sendiri konsep yang ia pelajari dengan bantuan guru. Dengan cara ini proses pembelajaran akan lebih bermakna. Masih menurut Degeng, “Manusia Indonesia terjangkit virus keseragaman”, Pola pikir sentralistik, monolitik, dan uniformistik mewarnai pengemasan dunia belajar dan Pendididkan. Oleh sebab itu, degegng menawarkan 8 kunci kesuksesan di era kesemerawutan global, yakni: kejujuran; kegagalan awal kesuksesan; bicara dengan niat baik; pola pikir kekinian; komitmen; tanggung jawab; sikap luwes; dan hidup seimbang. Dalam pembelajaran konstruktivistik, siswa diajak untuk menggali makna dan mengeksplorer potensi berdasarkan pengalaman dan pengetahuannya. Pendapat Degeng tersebut di atas, diperkuat lagi oleh pendapat Unifah tentang dukungan profesionalisme guru dalam pembelajaran. Menurut Unifak, “Hanya guru profesional yang dapat mengantarkan anak-anak masa depan sesuai dengan harapan. Guru mendidik, mengajar, mengarahkan, melatih, membimbing dan mengevaluasi peserta didik mewujudkan tujuan sebagai insan yang berakhlak mulia dan menguasai beragam karakteristik yang dibutuhkan dalam kehidupan masa depan anak. Profesi guru adalah profesi yang unik dan berbeda dengan profesi lainnya. Peannya tidak dapat digantikan dengan kecanggihan Iptek”. Dengan paradigma baru dalam pembelajaran dan dukungan guru yang professional, mudah-mudahan wajah pendidikan dan generasi muda yang memiliki ketaqwaan Kepada Tuhan Yang Mahaesa , berkarakter yang dilandasi skill dan pengetahuan yang luas, akan terwujud. Semoga….. (Dipostkan oleh Sofyan Zaibaski).
|