INSEMINASI SAPI PERAH UNGGUL PERTAMA DI AWAL TAHUN 2018

IMG-20180117-WA0018Mendalo– Inseminasi buatan pada sapi atau kawin suntik menjadi solusi yang efektif untuk menghasilkan produk anakan sapi yang berkualitas dan dapat meningkatkan mutu genetik sapi, ini dikarenakan semen yang akan disuntikan adalah semen yang berkualitas sehingga dihasilkan sapi yang memiliki kualitas yang baik dari induknya.
Diawal tahun ini, tepatnya pada tanggal 11 Januari 2018 lahir anak sapi perah bangsa FH hasil dari esimilasi dari Mahasiswa D3 Keswan (Kesehatan Hewan) Fakultas Peternakan Universitas Jambi.
Dr. Bayu Rosadi, S.Pt.,M.Si Dosen Peternakan Bidang Produksi yang merupakan dosen pembimbing mahasiswa tersebut mengatakan bahwa Fakultas Peternakan berhasil melakukan inseminasi sapi perah dari bangsa FH.
“Diawal tahun 2018 ini lahir hasil inseminasi pertama untuk sapi perah yang dilakukan oleh Mahasiswa D3 Keswan Fapet Unja, kelahiran anak sapi perah bangsa FH adalah hasil IB mahasiswa D3 Keswan angkatan 2015. IB dilaksanakan akhir Maret 2017, menggunakan semen beku produksi BIB Lembang,” Ujar Bayu.
Induk sapi FH ini sebelum diinseminasi, terlebih dahulu diprogram sinkroniasi estrus (penyerentakan birahi) dengan menggunakan hormon PGF2α agar saat birahi bisa ditentukan sesuai kebutuhan. Sebagai catatan, sapi betina hanya dapat diinseminasi pada saat mengalami estrus (birahi) yang terjadi satu kali setiap 21 hari.
Selain itu ia juga menyebutkan, Fapet Farm sudah memulai kegiatan IB tahun 2001. Tiga tahun pertama, kegiatan IB dilaksanakan dengan bantuan petugas inseminator dari Dinas Peternakan, karena Fapet Farm belum punya peralatan yang cukup untuk melaksanakan sendiri. Mulai tahun 2004 sampai sekarang, IB dilaksanakan sendiri oleh Fapet Farm dengan tenaga inseminator dosen bidang reproduksi dan mahasiswa yang sudah dibekali keterampilan IB.

FormatFactoryIMG-20180116-WA0036 FormatFactoryIMG_0932
“Bangsa sapi betina (akseptor) yang pernah di-IB di Fapet Farm diantaranya sapi Bali, sapi PO, sapi Simmental, dan sapi FH. Semen yang digunakan adalah semen beku yang diperoleh dari Balai Inseminasi Buatan (BIB) Lembang (Jawa Barat) atau dari BIB Singosari (JawaTimur). Semen beku diproduksi dari pejantan-pejantan unggul yang ada di kedua balai tersebut,” Ujar Bayu.
Sampai saat ini secara kuatitatif, produksi anak sapi perah atau sapi potong unggul dengan memanfaatkan teknologi IB masih terbatas. Dr. Bayu Berharap produksi anak sapi unggul ini dapat ditingkatkan secara signifikan di masa yang akan datang.
“Saat ini kendalanya adalah jumlah induk akseptor IB masih sangat kurang hanya ada enam ekor. Kita berharap ada penambahan jumlah induk betina sebagai akseptor IB. Dengan bertambahnya akseptor, jumlah anak sapi unggul yang dihasilkan lebih banyak, Ketersediaan induk betina tambahan juga diperlukan untuk melangkah keaplikasi teknologi reproduksi berikutnya yaitu transfer embrio. Tapi secara teknis, dosen dan mahasiswa Fapet sudah siap melaksanakannya,” tutup Bayu.

SILVIA YULIANSARI
Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WP Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com