Harga karet Domestik vs Internasional?

A. Overview Perkembangan Area danProduksi Perkebunan Karet Indonesia

Sektor pertanian memiliki peran yang penting dalam perekonomian Indonesia. Hal ini terlihat dari kontribusinya terhadap produk domestik bruto (PDB) yaitu sekitar 13,6 persen pada tahun 2017 atau peringkat kedua setelah sektor manufaktur (finance.detik.com, 2017). Pada saat krisis ekonomi, sektor pertanian adalah sektor yang dapat bertahan dalam menghadapi guncangan ekonomi dan terbukti dapat diandalkan dalam pemulihan ekonomi nasional pasca krisis. Rancangan Rencana Strategis Kementerian Pertanian Republik Indonesia (RENSTRA) 2015-2019 dijelaskan bahwa terdapat 12 komoditas perkebunan yang menunjukkan pola pertumbuhan produksi positif yaitu tembakau, kelapa sawit, kapas, cengkeh, karet, tebu, lada, kopi , nilam, dan kelapa. Sedangkan tiga komoditas lainnya, yaitu jatropha, teh, dan jambu mete karena berbagai kendala menunjukkan pola pertumbuhan produksi negatif dengan tingkat penurunan rata-rata sekitar -1,18 hingga -12,14% per tahun (Kementerian Pertanian, 2015). Hal ini menjelaskan bahwa sektor perkebunan memiliki peranan penting dalam memberikan kontribusi pada pertumbuhan ekonomi nasional bagi rakyat Indonesia.

Sektor perkebunan karet merupakan salah satu sektor perkebunan yang mengalami pertumbuhan produksi positif.Perkebunankaret yang dibudidayakan di Indonesia dapat dibagi menjadi tiga, yaitu sektor perkebunan karet rakyat yang dikelola masyarakat (PR), Perkebunan Negara (PBN) yang dikelola oleh lembaga / lembaga negara, dan Perkebunan Swasta (PBS) yang dikelola oleh perusahaan swasta. Sebagian besar perkebunan karet yang dibudidayakan pada tahun 2017 dioperasikan oleh petani kecil yang sekitar 3,12 juta hektar atau 84,85 persen dari total luas perkebunan karet di Indonesia. Pada tahun 2014 dan 2015, peningkatan produksi karet menunjukkan pertumbuhan produksi yang negatif tetapi pertumbuhan perkebunan karet menunjukkan tanda positif (Direktorat Jenderal Perkebunan, 2016) yang berarti ada sejumlah perkebunan karet baru tetapi produktivitas perkebunan luas (dalam hektar) tidak membaik seiring dengan peningkatan daerah. Perkembangan luas area perkebunan karet di Indonesia menunjukkan angka yang cenderung meningkat setiap tahunnya sedangkan produksi sektor perkebunan karet di Indonesia pada periode yang sama yaitu dari tahun 2011 hingga 2017 menunjukkan angka yang lebih berfluktuas.

Gambar1a. Luas Area Perkebunan Karet di Indonesia

Gambar1b. Produksi Perkebunan Karet di Indonesia

Source: Emzar (2016)*
*sebagai paper free project di UniversitasGöttingen

B. International Rubber Aggreement Sebagai Upaya menstabilkan harga karet dunia

Gambar 2. International Rubber Agreement

Source: Emzar (2016)*
*sebagai paper free project di UniversitasGöttingen

Perundingan dan kesepakatan mengenai karet secara internasional telah dimulai sejak tahun 1950-an, dan berkembang lebih luas yang dimulai pada tahun 1979 di bawah Integrated Programme for Commodities dibawah UNCTAD. Stabilisasi harga karet dunia selalu menjadi tujuan utama dari berbagai perundingan dan kesepakatan dari tahun 1979 hingga saat ini.Secara garis besar International Rubber Aggreement dari tahun 1979 hingga saat ini dapat kita lihat masih menjadikan harga karet sebagai prioritas utama, hal ini melanjutkan usaha-usaha perundingan dan kesepakatan yang telah terjadi sebelumnya.

Verico (2017) menjelaskan jika orientasi pasar karet Indonesia dari 1988 hingga 2008 dengan menggunakan data statistik FAO yang membuktikan bahwa ada peningkatan kesenjangan antara ekspor karet dan konsumsi domestik. Ini menjelaskan jika produksi karet Indonesia lebih mengandalkan pasar domestik dibandingkan dengan pasar karet internasional. Dalam analisisnya, Verico menunjukkan faktor penyebab utama adalah kualitas karet alam Indonesia masih belum memenuhi standar kualitas karet internasional, sehingga dampak pemanfaatan karet lebih banyak untuk memenuhi permintaan domestik daripada permintaan internasional. Di tingkat teknis produksi, hal ini juga terkait dengan mayoritas petani karet di Indonesia yang mengusahakan perkebunan karet dalam skala kecil dengan tingkat teknologi rendah. Kondisi ini semakin memburuk ketika INRA runtuh dan ini juga membuat tiga produsen besar berpikir perlu bergerak bersama dalam rangka memperbaiki keadaan.

Tiga negara produsen yaitu Indonesia, Malaysia dan Thailand pada tahun 2001 membentuk International Tripartite Rubber Organization (ITRO/ ITRC) untuk menggantikan fungsi INRA dengan tujuan yang hampir sama terutama lebih fokus pada harga karet. Kolaborasi tiga negara produsen utama karet dunia, International Rubber Company (IRCo Ltd.) didirikan pada Oktober 2003 dengan tujuan untuk menstabilkan harga dunia karet alam. Modal awal IRCo adalah sebesarUSD 225 juta dari ketiga negara (Verico, 2013).

C. Bagaimanakah harga karet selama ini?

Gambar 3. Harga karet harian Singapura vs harga karet Palembang
3a. Seri harga terpisah

3b. Perbandingan trend seri harga

Source: Emzar (2018)*
*Tugas paper pada satu mata kuliah di Universitas Göttingen
Note: Harga harian dari Bappebti (4 Januari 2010 sampai 29 Maret 2018)
Harga karet di Palembang (spot prices/garis merah)
Harga karet di Singapore (futures prices/garis hitam)

Grafik diatas menunjukkan bahwa perkembangan harga karet di pasar internasional Singapura, danpasar domestic Palembang mengalami fluktuasi dari tahun 2010 hingga 2018 dengan menggunakan data harga harian. Hal ini dapat diinterpretasikan bahwa pada saat terjadi perubahan harga di pasar Singapura maka akan diikuti dengan perubahan harga yang terjadi di pasar Palembang. Hal ini terjadi karena harga di pasar Singapura merupakan harga patokan bagi harga karet di Palembang.

Gambar 3 juga menunjukkan adanya perbedaan (disparitas) harga karet yang terjadi pada kedua pasar karet (Singapura dan Palembang). Gambar 3a menunjukkan bahwa kedua seri harga secara keseluruhan dapat dilihat memeliki pola yang sama dan gambar 3b menunjukkan bahwa harga karet di pasar Singapura lebih tinggi dibandingkan harga karet di pasar Palembang.

Perbedaan harga yang terjadi pada kedua pasar tersebut dapat dilihat dengan jelas memiliki selisih harga yang cukup tinggi dimana harga karet di pasar Singapura mencapai harga tertinggi 7.6 US $/kg, sedangkan harga tertinggi karet di pasar Palembang hanya mencapai harga 6.5 US $/kg. Apabila kedua harga tersebut di bandingkan terjadi perbedaan harga dari tingkat pasar karet Singapura dan harga karet di pasar Palembang yaitu mencapai 1.1 US $/kg atau mencapai 14.47 % lebih rendah dari harga Singapore pada 1,961 observasi.

Tingkat harga tersebut akan lebih rendah lagi jika ditransmisikan pada berbagai level rantai pemasaran karet di berbagai daerah di Indonesia sehingga memberikan dampak bagi perekonomian rakyat Indonesia yang mayoritas merupakan petani karet jika terjadi kenaikan ataupun penurunan harga karet. Selain itu transmisi harga yang terjadi akan sangat tergantung pada respon pasar domestik terhadap kenaikan dan penurunan harga karet di pasar Internasional. Fenomena yang terjadi adalah respon terhadap fenomena penurunan harga di pasar Internasional oleh pasar domestik jauh lebih cepat dibandingkan dengan respon kenaikan harga di pasar Internasional oleh pasar domestik.

Hal ini dapat terjadi dikarenakan beberapa hal diantaranya yaitu: keterbatasan akses informasi, panjangnya rantai pemasaran karet di Indonesia sehingga menyebabkan keterlambatan sharing informasi yang dapat dikatakan masih didominasi oleh cara-cara tradisional, lemahnya monitoring eksekusi perubahan harga yang dilakukan oleh aktor dan stakeholder dalam tatanan rantai pemasaran karet dan rendahnya kualitas karet petani.

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WP Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com