ARKEOLOGI UNIVERSITAS JAMBI ADAKAN DISKUSI PUBLIK

DALAM MEMPERINGATI HARI WARISAN DUNIA
MENDALO, – Program Studi Arkeologi Universitas Jambi mengadakan Diskusi Publik untuk mengenalkan, menyadarkan dan menanamkan bahwa perlu adanya kerjasama semua elemen masyarakat untuk menjadikan kompleks percandian ini menjadi warisan dunia UNESCO (2/5).

Diskusi publik ini mengangkat tema “Potensi Kanal Kuno Candi Muarojambi sebagai Pendukung Warisan Dunia,” yang dilaksanakan di panggung utama Kompleks Percandian Muarojambi dengan mengundang pemantik dari Balai Pelestarian Cagar Budaya Jambi (BPCB Jambi), Ketua Program Studi Arkeologi Universitas Jambi, Ketua Komunitas PADMASANA, Duta Seni Budaya dan Pariwisata Provinsi Jambi 2018, serta Tim Ilmiah PIAMI.

Kegiatan ini bertujuan untuk menyadarkan dan menanamkan betapa pentingnya nilai-nilai yang terdapat pada Warisan Dunia yang menjadi bukti peradaban manusia, dan menjaga kelestarian alamnya yang berguna bagi masa sekarang dan yang akan datang. Indonesia sudah mempunyai 4 Warisan Dunia Alam dan 4 Warisan Dunia Budaya.

Sampai saat ini Indonesia masih berupaya mengusulkan beberapa warisan budayanya agar bisa terjaga, lestari dan dikenal oleh dunia. Salah satunya adalah Kompleks Percandian Muarojambi (Muarojambi Temple Compound) terletak di Provinsi Jambi.

Kompleks percandian Muarojambi diajukan 6 Oktober 2009, dalam daftar sementara Warisan Dunia (World Heritage Tentative List). Situs ini terletak di kecamatan Maro Sebo, Muaro Jambi di tepian sungai Batanghari yang terhubung dengan jaringan kanal kuno. Kawasan ini menjadi tempat pertukaran nilai-nilai kebudayaan dan kemanusiaan sepanjang periode Hindu-Buddha di Indonesia.

Kemampuan masyarakatnya membuat kanal sebagai sarana transportasi sekaligus pencegahan banjir apabila debit air meningkat menunjukkan masyarakat dahulu menggunakan kearifan lokal dalam memanfaatkan bentang alamnya yang dekat dengan sungai terpanjang di Sumatera yaitu sungai Batanghari. Situs ini mempunyai nilai penting yang harus dijaga dan dilestarikan baik agama, ekonomi, dan sosial budaya.

Diskusi ini secara umum menjelaskan peran dan pemanfaatan kanal kuno dalam menjadikan Kompleks Candi Muarojambi menuju warisan dunia baik dilihat dari segi pariwisata dan kelestariannya.

Para pemantik/narasumber menjelaskan masalah apa yang sedang terjadi, apa penyebabnya dan bagaimana solusi yang baik untuk diterapkan pada pemanfaatan kanal kuno di Muarojambi.

Pada akhir sessi diskusi, disepakati 10 poin yang disetujui seluruh peserta yang hadir yaitu; perlunya pelestarian terhadap kanal-kanal Muaro Jambi, perlunya kesadaran dan kepedulian tentang pentingnya kanal-kanal kuno Candi Muarojambi untuk kepentingan bersama, perlunya kesepakatan dan kesepahaman dalam membangun Candi Muarojambi menuju World Heritage, membuat wisata edukasi pengairan, perlunya peningkatan pelayanan pengunjung, membuat paket wisata berbasis sejarah, perlunya melakukan normalisasi/revitalisasi kanal-kanal, dengan cara pengerukan/ pendalaman kanal-kanal untuk meminimalisir kebanjiran yang dapat merusak candi, perlunya stakeholder terkait turun ke masyarakat dalam melestarikan dan membangun cagar budaya yang ada, perlunya kajian khusus terkait jenis dan pangsa pasar wisata, dan yang terakhir sebelum mengembangkan wisata Candi Muarojambi lebih lanjut maka perlunya sumber daya masyarakat yang mengelola Candi Muarojambi khususnya yang berasal dari masyarakat.


IRWAN

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WP Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com