Jejak Migrasi Austronesia: Bukti Baru Seni Rupa Prasejarah di Wilayah Jambi

Pelukis Basuki Abdullah memang punya gaya yang berbeda dengan para maestro pendahulunya, seperti misalnya Raden Saleh sang impresionis yang keindahan karyanya diakui seluruh dunia. Arus ekspresi ide yang mengalir dari atas kuas diatas kanvas pada akhirnya menciptakan bentuk-bentuk dinamis yang hidup, sehidup barisan puisi Chairil Anwar. Penulis cukup beruntung dapat menyaksikan karya terbaik Basuki Abdullah dipamerkan dalam rangka memperinhati hari lahirnya beberapa minggu yang lalu. Penulis dan undangan lain yang telah memadati ruang utama Museum Basuki Abdullah tak hentinya berdecak kagum, tidak hanya pada keindahannya, namun juga harga jual yang mencapai ratusan juta rupiah. Kiranya begitulah harga dari sebuah masterpiece, suatu karya yang lahir dari pertemuan antara memori, luapan ekspresi dan kreasi, sebab itu pulalah dia menjadi mahakarya abadi.

RUPANYA mahakarya abadi ini juga terdapat di wilayah Jambi. Temuan arkeologi yang tidak disangka-sangka yang diwarisakn oleh masyarakat awal yang mendiami wilayah Jambi yang menurut penanggalan karbon C14 setidaknya berusia 3500 BP/Before Present. Merujuk pada Teori Bellwood, awalnya para penutur bahasa Austronesia ini adalah migran dari Formosa, yang oleh karena semangat eksplorasi dan jiwa inventornya, lalu mengembangkan layar menuju selatan melintas laut china lalu menyusuri sungai-sungai menuju Jambi daratan. Survei dari Balai Arkeologi Sumatera Selatan yang telah berlangsung sejak tahun 1990, pun membuktikan bahwa kemungkinan awal mereka bermukim ada di wilayah Merangin, menghuni gua-gua yang memiliki potensi layak huni; intensitas matahari yang cukup, dekat sumber air/sungai, dan lingkungan kaya flora fauna. Gua Ulu Tiangko adalah salah satu gua yang memenuhi kriteria. Dugaan ini terbukti dari data ekskavasi pihak Balai Arkeologi Sumatera Selatan dan Pusat Penelitian Arkeologi Nasional yang banyak menemukan alat-alat batu dan sisa-sisa kehidupan manusia prasejarah, berupa; tembikar, tulang hewan, obsidian, dan beberapa fosil gigi dan tulang femur.

Gugusan Karst Bukit Bulan, Sarolangun-Jambi, Tim Arkeologi Univeritas Jambi Ramah Tamah Dengan Kepala Desa Bukit Bulan, dan Salah satu Temuan Baru Lukisan Prasejarah di Gugusan Bukit Bulan.

Data temuan tembikar dari gua Tiangko, menunjukkan satu hipotesa bahwa ekspresi seni yang dikembangkan pada masa okupasi awal ini kemungkinan baru pada media tembikar. Terbukti dari temuan tembikar dalam jumlah yang cukup banyak, dengan motif hias; jala, geometris, polygon, dan sulur-sluruan. Ekspresi seni pada media lain sejauh ini belum dapat ditemukan di gua Ulu Tiangko ataupun gua terdekat diskitranya. Bahkan pada peneltian terbaru Balai Arkeologi Sumatera Selatan tahun 2017 yang juga melibatkan Arkeologi Universitas Jambi, belum ditemukan adanya bentuk seni berbeda selain pada media tembikar. Lantas dunia arkeologi Indonesia dikejutkan dengan penemuan lukisan prasejarah di gua-gua karst Bukit Bulan Sarolangun, yang awalnya diperoleh dari laporan masyarakat lalu ditindak lanjuti oleh pihak Balai Arkeologi Sumatera Selatan di tahun 2015 akhir. Penemuan yang melengkapi khasanah seni prasejarah Indonenesia, dan para arkeolog menggapnya sebagai hadiah ‘penutup tahun’.

Riwayat penelitian yang berlangsung di wilayah gua-gua karst Bukit Bulan dimulai pada survey pertama Balai Arkeologi Sumatera Selatan yang dipimpin oleh Ruly Fauzy, MA, di akhir tahun 2015. Selanjutnya awal tahun 2016 Tim dari BPCB Jambi masuk ke wilayah gua karst Bukit Bulan, dan berselang beberapa bulan, tepatnya pada bulan Agustus 2016 Tim Arkeologi Unja yang dipimpin langsung oleh penulis bersama delapan mahasiswa masuk wilayah Bukit Bulan untuk melakukan peneltian. Pada tahun 2017 Tim Arkeologi Unja kembali melakukan penelitian di bulan Februari, Mei, dan November. Hasil dari penelitian dua tahun, telah berhasil menghimpun sebanyak 32 gua karst yang memiliki potensi arkeologi berupa; lukisan prasejarah atau rock art, tembikar, obsidian, dan beberapa tulang yang belum teridendtifikasi secara laboratoris.

Penemuan lukisan prasejarah di Indonesia memang bukan hal baru, setidaknya telah dimulai sejak tahun 1938 atas penemuan lukisan prasejarah di Pulau Seram oleh Roder yang kemudin terbit dalam jurnal Paideuma I dengan judul “Die Felsbilder in Flussgebiet des Tala”. Berlanjut pada tahun 1944 Tichelman menemukan lukisan prasejarah di Papua, lalu C.H.M Heeren ditahun 1950 menemukan lukisan prasejarah di Maros Sulawesi selatan, yang belakangan dinyatakan sebagai lukisan tertua di dunia dengan usia 40.000 BP. Memang lukisan prasejarah yang baru ditemukan di gua Bukit Bulan Sarolangun tidak setua lukisan di Maros, akan tetapi temuan ini dapat memicu munculnya teori migrasi baru dan okupasi awal pulau Sumatera, bahwa para penutur austronesia tidak hanya bermigrasi dari jalur Formosa, Philipina, Sulawesi Kalimantan, lalu menyebar ke Jawa dan Pulau Sumatera, namun ada kemungkinan juga lewat jalur migrasi opsi ke-dua.

Terkait kronologi lukisan prasejarah Bukit Bulan, analisis data sementara menunjukkan setidaknya aktifitas seni di Bukit Bulan berlangsung dari masa akhir neolitik atau awal masa megalitik hingga masa kerajaan Melayu Kuno di Abad ke-V. Hipotesa ini dilandasi dengan pertanggalan relative serta studi komparasi bentuk, ragam, bahan dan teknik dengan objek lukisan di leang Kabori dan Wabose Pulau Muna Sulawesi Tenggara yang memiliki kemiripan. Tentu untuk akurasi data, perlu dilakukan dating absolut melalui uji C14 atau dengan teknik uranium di laboratoriun BATAN. Perlu juga dicatat, bahwa pendalaman data yang tergolong masih baru, yakni sejak 2016 hingga 2018, tentu belum mampu mengungkap segala misteri peradaban awal di wilayah Jambi. Paling tidak, temuan lukisan prasejarah di gua Bukit Bulan menunjukkannya adanya jejak-jejak peradaban Austronesia berikut mengenal perkembangan ragam seni rupanya; dari media Tembikar dengan teknik gores, cukil dan tekan berkembang pada seni lukis dengan media dinding cadas gua karst.

Penelitian arkeologi ibarat suatu pencarian tiada akhir, terus menerus membawa para arkeolog untuk menjelajah pada ruang yang belum terjamah mencari peradaban yang hilang. Semangat eksplorasi dan menemukan temuan baru inilah lantas yang menguatkan tekad penulis untuk menularkannya kepada para mahasiswa Universitas Jambi. Lantas bersama 25 mahasiswa yang berasal dari empat jurusan; arkeologi, sejarah, biologi, dan hukum, melakukan ekspedisi gabungan ke gua karst Bukit Bulan Sarolangun. Benar kata pepatah ‘Tak ada usaha yang mengkhianati hasil’, penelitian bersama yang berlangung dari 3 sampai 9 Maret 2018, membuahkan hasil berupa temuan baru lukisan prasejarah pada beberapa gua di Gugusan Celo Petak, Celo Tengah dan Bukit Raya, yang berjarak ±16 Km dari gugusan Bukit Bulan. Penemuan lukisan baru ini menunjukkan adanya ragam seni berbeda dengan temuan di tahun 2016 dan 2017; yakni pada lukisan figure manusia digambarkan tengah berdiri dengan senjata pedang dan senjata tombak. Berbeda dengan temuan di tahun 2016 di gua kerbau I, juga terdapat figure manusia, tapi tanpa dilegkapi senjata berbahan logam. Hipotesanya, aktifitas seni lukis di gua kars Bukit Bulan besar kemungkinan berlangsung secara berkesinambungan dari masa neolotik, hingga masa manusia telah mengembangkan teknologi peleburan logam.

Tentu, dalam tulisan ini penulis selaku peneliti tidak dapat memaparkan secara lengkap berikut peta sebaran temuan, diagram analis, maupun tabel klasifikasi arkeologi. Paling tidak tulisan singkat ini memberikan gambaran akan suatu temuan baru di wilayah Bukit Bulan Sarolangun Jambi, yang menurut hipotesa penulis masih menyimpan sejuta potensi berselimut misteri menunggu untuk kita teliti bersama-sama. Apalagi mengingat sangat meumngkinnya kita melakukan penelitian lintas disiplin ilmu di Universitas Jambi. Sebagai penutup dari penulis “ Kita di Jambi juga ada lukisan penuh pesona yang tak kalah unik dan indahnya dari lukisan Basuki Abdullah. Hebatnya lagi, lukisan di jambi ini usianya tiga ribu tahun lebih tua dari karya Basuki Abdullah. Tidak digambar diatas kanvas dengan cat minyak dan kuas modern, namun dilukis diatas putihnya dinding gua karst dengan bahan alami dan teknik kuno ramah lingkungan yang menunggu untuk dikaji lebih mendalam”.

“Bukit bulan jauh di mudik
Nampak dari pulau pandan
Jadi bulan lah kau Adik
Abang memandang merisai badan”
-Pantun lama Marga Bukit Bulan.

Penulis: Asyhadi Mufsi Sadzali, S.S.,M.A
Dosen Program Studi Arkeologi Universitas Jambi

Tim Arkeologi Unja di depan Mulut Gua Air Lului, Bukit Bulan Sarolangun.

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WP Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com