TANTANGAN BURUH MENGHADAPI ERA DIGITALISASI

Buruh tidak selalu dikonotasikan sebagai pekerja hina, kasar, rendahan dan sebagainya. Pada dasarnya pengertian buruh tidak sesempit itu tapi meliputi pekerja dan karyawan. Namun kelas pekerja dan karyawan lebih mengandalkan otak daripada otot mereka. Secara kompleks dikatakan buruh apabila manusia yang mempunyai tenaga dan kemampuan untuk mendapatkan balasan berupa uang maupun bentuk lainnya kepada pemberi kerja ataupun majikan. Jika kita merujuk undang undang ketenagakerjaan di Indonesia buruh diklasifikasikan menjadi dua yaitu buruh profesional dan buruh kasar.

Hari buruh atau may day yang lebih di kenal secara internasional, diperingati setiap tanggal 1 mei. Awal mula hari buruh di peringati adalah akibat representasi dari revolusi industri pada tahun 1886 di Amerika Serikat, yang mana pada waktu itu buruh dipaksa bekerja 16 hingga 19 jam sehari di pabrik pabrik. Pada saat itu sejumlah sarekat buruh melakukan demonstrasi besar-besaran menuntut diberlakukannya 8 jam sehari serta kenaikan upah yang layak. Hingga pada tahun 1889 Konferensi Internasional Sosialis menetapkan 1 mei sebagai peringatan hari buruh internasional, sejak pada saat itu hari buruh diperingati setiap tanggal 1 mei di seluruh dunia.

Hari buruh menjadi sebuah momentum buat buruh menyuarakan keluh kesah serta tuntutan-tuntutanya ke pemerintah maupun ke perusahaan. Tuntutan itu tidak selalu jauh dari kesejahteraan buruh sendiri, bagaimana supaya perusahaan dalam memberlakukan buruh secara adil dan manusiawi. Karena buruh bukan robot bernyawa yang bisa bekerja penuh waktu serta diberlakukan seenak perut oleh perusahaan. Karena memberlakukan buruh secara tidak manusiawi di tengah pemanfaatan tenaga mereka adalah sebuah bentuk pemberangusan buruh.

Sejarah buruh di Indonesia berbeda dengan sejarah buruh di dunia dalam memperjuangkan hak mereka. Di Indonesia pada orde baru peringatan hari buruh sempat dilarang oleh presiden Seoharto. Dan kemudian pada tahun 2014 di masa kepemimpinan presiden Susilo Bambang Yudhoyono hari buruh ditetapkan menjadi hari libur nasional. Sejarah buruh di Indonesia juga memiliki sejarah yang kelam, pada tahun 1993 seorang aktivis buruh dinyatakan hilang, dan kemudian ditemukan tidak bernyawa pada masa itu. Tidak diketahui secara pasti alasan pembunuhannya namun beliau dianggap sebagai dalang pemogokan buruh.

Di tengah perkembangan zaman yang sangat pesat tantangan buruh pun berubah mengikuti zamannya. Era yang kita sebut saat ini adalah era digitalisasi atau Revolusi 4.0. Bagaimana nasib buruh terlebih kepada buruh kasar yang jumlahnya cukup besar di Negara kita. Bergantinya pola produksi dari manual menjadi otomati atau robotik mengakibatkan tenaga manusia otomatis akan berkurang lantas kemana nasib buruh di tengah perkembangan zaman. Disini penulis secara tegas menyatakan bukan menolak perkembangan zaman namun mempertanyakan solusi yang soluktif buruuh tetap bekera. Karena menurut penulis berpikir pemodal akan lebih memilih digitalisasi daripada buruh, supaya hasil produktifnya lebih banyak dan sesuka perut mereka memberlakukannya.

Dibalik tergerusnya pekerjaan manusia yang digantikan robot juga akan menghadirkan pekerjaan baru , diprediksi kurang lebih 65.000 pekerjaan seperti yang dikatakan Kementrian Tenaga Kerja (Kemnaker) dalam kompas.com. Digitalisasi memang bukan sebuah ancaman namun yang menjadi ancaman adalah kebodohan. Berbicara mengenai Revolusi Industri 4.0 ada peluang serta tantangannya peluangnya adalah ketika kita siap atau mampu menghadapi system untuk beradaptasi dengan Revolusi Industri 4.0 cara yang paling sederhananya adalah pekerja harus mampu melakukan pekerjaan yang tidak bisa dilakukan oleh robot ataupun yang dilakukan oleh mesin.

Menurut penulis sekarang bukan saatnya lagi kita apatis terhadap digitalisasi,revolusi industri 4.0 membuka keran peluang bisnis seluas luasnya buat kita. Masyarakat tidak perlu melakukan penolakan terhadap digitalisasi karena siapa yang menolak zaman maka dia akan tergilas oleh zaman. Kita harus mampu membentuk soft skils, berpikir kreatif serta berpikir kritis. Dan mampu membangun sector sector lapangan pekerjaan yang dapat menampung masyarakat terutama buruh. Cara untuk menghadapi revolusi industry 4.0 adalah mudah beradaptasi serta harus kreatif. Supaya kita tidak hanya menjadi penonton ataupun menjadi korban dari perkembangan zaman yang semakin pesat.

Disamping sejarah dan tantangan buat kaum buruh di Indonesia di satu sisi pemodal juga kadang mejadi musuh dari buruh dimana pemodal kebanyakan selalu memikirkan untung saja tidak memikirkan buruh yang telah bekerja untuk mereka. Musuh buruh Indonesia bukanlah buruh yang beda kulit serta beda ras namun musuh buruh adalah kapitalisme yang merajalela serta memonopoli perdangangan tanpa memikirkan masyarakat yang berada di sekelilingnya. Karena sejauh ini tuntutan buruh Indonesia selalu bermuara pada system perusahaan yang secara eksplisit merugikan buruh itu sendiri, karena pergerakan buruh muncul adalah antithesis kebijakan perusahaan yang merugikan buruh dan menggangap kebijakan tersebut tidak manusiawi

Setelah itu kita juga sangat mengharapkan campur tangan pemerintah untuk lebih serius dalam menangani permasalahan permasalahan yang dihadapi buruh sekarang dan kedepannya. Buruh mengharapkan pemerintah benar benar mewakili suara masyarakat dalam perumusan kebijakan yang mengatur hubungan antara pemodal dengan buruh. Supaya keadilan serta kesejahteraan itu di dapatkan semua buruh. Penulis juga sangat mengharapkan keseriusan pemerintah dalam mengembangkan pendidikan di Indonesia terutama digitalisasi dalam menghadapi perkembanga zaman.

Pemerintah harus mampu menjadi garda terdepan mewujudkan kesejahteraan buruh dan mampu menjadi jawaban buat buruh serta masyarakat yang sepenuhnya tidak mampu secara soft skilss dalam menghadapi revolusi industry 4.0, pendidikan dan sosialisasi adalah langkah palling urgent saat ini yang dapat dilakukan pemerintah dalam mengantisipasi kebingungan masyarakat dalam menghadapi revolusi industry ini. Kesiapan masyarakat memang harus benar benar matang supaya revolusi indudtri ini bukan menjadi masalah ekonomi dan dan sosial bagi masyarakat Indonesia terutama buruh.

Oleh : Wiranto Manalu
Penulis adalah mahasiswa fakultas ilmu sosial dan ilmu politik
Universitas Jambi

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WP Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com