Pelestarian Seloko Berbasis Teknologi untuk Menghadapi Tantangan dan Peluang Industri 4.0

Budaya merupakan suatu hal yang sangat erat dalam terwujudnya suatu peradaban. Budaya sudah menjadi darah daging bagi identitas bangsa, di mana budaya tak hanya dipandang dari segi fisiknya sebagai suatu bentuk keindahan namun lebih dari itu yakni nilai-nilai filosofisnya yang sarat akan makna. Seiring berjalannya waktu serta dinamika peradaban yang begitu cepat, maka siap tidak siap, kita akan dihadapkan pada keadaan di mana eksistensi kebudayaan di tengah-tengah kehidupan bermasyarakat kian lama kian tergerus.

 “Jangan telunjuk lurus, kelingking bekait”

 ITULAH salah satu contoh dari Seloko. Seloko merupakan tradisi lisan yang berasal dari daerah Jambi. Sebagai tradisi lisan Seloko dijadikan suatu filsafat yang dirumuskan dalam bentuk peribahasa. Seloko memiliki makna kiasan sehingga perlu penafsiran secara simbolik untuk menafsirkan makna dari ungkapan ini.

Selain menjadi budaya daerah, Seloko juga merupakan pandangan hidup atau pandangan dunia yang mendasari seluruh kebudayaan Jambi. Seloko berisi tentang pesan dan nasehat dalam segala aspek kehidupan, baik dari aspek keagamaan, moral, sosial dan masyarakat, maupun dari segi kepemimpinan. Seloko merupakan sarana masyarakatnya dalam merefleksikan diri akan hakikat kebudayaan, dan pemahaman mendasar untuk memberikan pesan maupun amanat dari kebudayaan tersebut. Sehingga pada Oktober 2014, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia telah menetapkan Seloko sebagai salah satu Warisan Budaya Takbenda Indonesia.

Dahulu, seloko digunakan dalam pidato-pidato adat, peristiwa adat, penerapan hukum adat, bahkan dalam percakapan sehari-hari masyarakat Jambi. Oleh karena itu, seloko menjadi suatu hal yang tidak asing bagi masyarakat Melayu Jambi saat itu. Namun kini, penggunaan seloko hanya terbatas pada upacara adat dan prosesi adat perkawinan saja. Seloko mulai terdengar asing di negeri asalnya sendiri. Terlebih bagi sebagian besar anak-anak muda di Provinsi Jambi.

Jangankan untuk menyebutkan isinya, ketika ditanya arti dari seloko, tak sedikit yang hanya menggelengkan kepalanya tanda tak tahu dengan tradisi lisan yang berasal dari Negeri Sepucuk Jambi Sembilan Lurah tersebut. Salah satu penyebabnya adalah pesatnya perkembangan teknologi dan arus globalisasi yang tidak dapat dibendung, sehingga menggeser kebiasaan-kebiasaan masyarakat, apalagi sekarang ini kita sudah dihadapkan dengan era revolusi industri 4.0.

Sejak 5 April 2018 Presiden Joko widodo telah mengumumkan bahwa Indonesia siap memasuki era revolusi industri 4.0, yang terbagi ke dalam 5 bidang. Kelima bidang tersebut yakni industri makanan dan minuman, industri otomotif, industri elektronik, industri kimia, serta industri tekstil dan produk tekstil.

Seiring memasuki revolusi 4.0 artinya akan terdapat peluang dan tantangan yang harus dihadapi Indonesia. Dalam menyikapi peluang yang ada melalui revolusi 4.0 ini, Indonesia mutlak memerlukan pendekatan dan kemampuan baru guna membangun sistem dan produksi yang inovatif dan berkelanjutan. Salah satu contohnya dalam industri elektronik ialah melalui penetrasi alat-alat elektronik. Pada masa kini teknologi sudah menyentuh ranah pribadi.

Telepon genggam kini tak hanya digunakan sebagai alat berkomunikasi jarak jauh, namun lebih dari itu yakni sebagai pengatur kesehatan, pola diet, mengelola investasi, mobile banking, pemesanan kendaraan umum, hingga untuk pembelian tiket perjalanan. Semua hal itu kini bisa dilakukan  hanya  melalui  satu  perangkat  teknologi  saja. Masyarakat menjadi sangat dekat dengan telepon genggam.

Namun sangat disayangkan, ternyata masih ada generasi yang tidak mencoba memaksimalkan kesempatan di era teknologi ini, sehingga berkembangnya revolusi industri 4.0 justru menjadi tantangan bagi bangsa Indonesia itu sendiri.

Sebagian besar masyarakat kini lebih sering menggunakan gawai dan selalu terhubung dengan internet dalam setiap pekerjaannya. Hal ini dibuktikan dengan adanya data bahwa Indonesia termasuk negara pengguna internet terbanyak di dunia. Berdasarkan data yang dilansir oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), lebih dari 50% atau sekitar 143 juta penduduk Indonesia terhubung dengan jaringan internet.

Berdasarkan kenyataan ini, sadar ataupun tidak, perkembangan teknologi yang sangat cepat telah mempengaruhi keberadaan budaya lokal, sehingga peristiwa ini perlu dicermati agar budaya asli Indonesia tidak tergerus. Bagaimana mungkin Indonesia bisa berkembang sedangkan di sisi lain Indonesia juga dihadapi dengan ancaman hilangnya jati diri bangsa, karena sejatinya budaya merupakan elemen terpenting sebagai unsur pembentukan jati diri bangsa dalam menjalankan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Dalam hal ini penulis mencoba memandang kenyataan yang terjadi di atas dari sudut pandang yang positif. Kenyataan bahwa masyarakat yang cenderung lebih banyak menghabiskan waktu dengan gawainya bisa dijadikan peluang untuk melestarikan budaya melalui teknologi. Sehingga Indonesia khususnya Provinsi Jambi dapat berupaya untuk melestarikan Seloko berbasis teknologi dalam menghadapi tantangan dan peluang Industri 4.0.

Adapun penulis menulis artikel ini bertujuan untuk memberikan sumbangan solusi agar Indonesia khususnya Provinsi Jambi siap dalam menghadapi industri 4.0. Namun tak menutup kemungkinan pula bagi daerah-daerah lain di Indonesia untuk melestarikan budayanya dengan berbasis teknologi seperti ini.

Pelestarian Seloko berbasis teknologi (menggunakan aplikasi misalnya), dapat memberikan fitur baca, fitur suara dan fitur makna. Fitur baca bagi para pengguna yang ingin membaca berbagai macam bentuk seloko. Fitur suara, bagi para pengguna yang tidak terlalu suka membaca yaitu seloko yang dibacakan agar para pengguna dapat mendengar seloko tanpa harus membacanya. Fitur makna, tak hanya dapat mendengar dan membaca seloko, fitur makna yang di dalamnya terdapat makna-makna dari seloko yang kita bacakan ataupun yang kita dengar.

Sehingga disaat seseorang menggunakan seloko maka ia dapat membaca seloko, kemudian dapat mendengar suara dari pembacaan seloko tersebut, dan juga dapat mengetahui makna dari seloko itu sendiri. Dengan begitu, tantangan revolusi industri 4.0 sekaligus menjadi peluang untuk menjadikan masyarakat yang cenderung lebih dekat dengan teknologi menjadi dekat pula dengan budaya daerahnya.

Melalui kerja sama yang baik antar lapisan masyarakat terutama orang tua, pimpinan lembaga adat, dan pemerintah di era serba digital, Seloko justru akan menjadi lebih dekat dengan masyarakat melalui aplikasi yang ada di gawainya.

Dalam lingkungan pendidikan, seloko dapat dimasukkan dalam muatan lokal di sekolah dan menjadi mata kuliah di perguruan tinggi. Dengan begitu, anak-anak muda dapat mengenal dan mempelajari seloko yang merupakan budaya negerinya sendiri. Dengan adanya Seloko berbasis teknologi (aplikasi misalnya) dapat dijadikan sarana belajar siswa dalam kegiatan pembelajaran di bawah pengawasan guru.

Dalam kehidupan bermasyarakat, komunitas pecinta seloko dan tempat belajar khusus perlu dibentuk sehingga baik dalam lingkungan pendidikan maupun kehidupan bermasyarakat anak-anak muda tidak akan merasa asing  lagi dengan seloko. Selain itu, media sosial yang sering diakses oleh semua orang dapat dijadikan sarana praktis untuk memperkenalkan seloko.

Dengan demikian, seloko tidak hanya akan dikenal oleh anak cucu kita sebagai bagian dalam sejarah kebudayaan Jambi yang hanya tinggal nama belaka, melainkan budaya yang tetap perlu dilestarikan.

Dewi Yunita Anggraini

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WP Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com