Kerusakan Alam dan Etika Pembangunan

Sebuah film dokumenter yang berjudul Before The Flood (2006) berdurasi satu setengah jam mencoba menggambarkan perubahan drastis iklim dunia saat ini. Pemanasan global ini disebabkan oleh pilihan kebijakan pembangunan manusia yang kurang peduli terhadap masalah lingkungan. Setiap Negara sekarang berlomba-lomba membangun pabrik-pabrik pencakar langit dan tidak memperhatikan telah merusak lingkungan.

Seperti yang dikisahkan, manusia sebagai mahluk hidup selalu berupaya untuk memenuhi hasrat hidupnya. Agar dapat memenuhi kebutuhan ekonominya, manusia akan melakukan segala bentuk cara dalam mengola alam. Maka seringkali manusia melakukan cara-cara yang merusak alam, mengancam kelangsungan hidup hewan dan tumbuhan, sehingga merusak tatanan ekosistem yang ada. Dan semua permasalahan itu lahir dari kebijakan pembangunan yang tidak tepat.

Memang tak bisa disangkal bahwa setiap negara sekarang berlomba untuk menjadi negara maju, sejahtera dan super power. Untuk mencapai tujuan tersebut harus ada upaya untuk membangun eknomi, sosial, politik dan masyarakatnya. Dan upaya yang menjadi orientasi kebijakan di setiap negara ialah pada pertumbuhan ekonomi baik dalam produksi, konsumsi, distribusi dan pembangunan infrastruktur. Jadi jarang sekali melihat negara peduli  terhadap permasalahan lingkungan.

Perlu di cermati bahwa pembangunan infrastruktur membawa implikasi kerusakan lingkungan. Untuk mendirikan jalan tol, hotel, bandara, pabrik industri, pelabuhan, pembukaan lahan pertanian, perkebunan, diperlukan lahan yang baru dan tidak sempit. Maka pembabatan hutan, penebangan pohon menjadi sasaran yang di pilih. Padahal udara yang kita hirup sehari-hari itu merupakan hasil dari filtrasi yang dilakukan oleh hutan. Banyaknya jumlah pohon berpengaruh besar kepada sirkulasi udara dan lapisan ozon bumi.

Maka penulis merasa bahwa pembangunan yang akhir-akhir ini pemerintah genjot perlu dicermati lebih dalam lagi, mengingat sebuah kebijakan pasti menyangkut kemaslahatan khalayak banyak. Ini mengharuskan proses yang matang dan kajian yang dalam karna menyangkut kehidupan rakyat luas, bukan sebagai agenda pembangunan semata.

Etika Pembangunan

Siapa bilang etika hanya diperuntukkan untuk sikap seseorang. Perlu diketahui bahwa alam juga memiliki etika lingkungan. Alam perlu dijaga dan dirawat dengan baik. Pengelolaan sumber daya alam yang salah dapat berdampak negatif pada ketahanan sumber daya itu sendiri dan juga berdampak balik pada kehidupan manusia. Pembangunan infrastruktur yang harus membelah hutan, memotong jutaan pohon, membabat tumbuhan langka, akan membuat terganggunya pola hidup satwa liar dan juga merusak ekosistem. Jika tanpa  kajian yang lebih komprehensif dan jelas dapat merugikan manusia itu sendiri. Masuknya binatang buas gajah, harimau, ular dan sebagainya ke pemukiman warga disebabkan oleh habitat mereka sedang terancam. Bencana banjir dan kekeringan semakian Nampak nyata kita lihat. Celakanya pemanasan global yang waktu dekat ini kita rasakan merupakan imbas nyata dari kerusakan alam.

Karena etika berbicara moral dan nilai maka pembangunan yang dikerjakan pemerintah jangan lagi mengeyampingkan aspek lain seperti sosial, kultur, budaya, masyarakat yang terkontaminasi akibat imbas suatu pembangunan. Saat Negara mencoba memacu laju bidang ekonomi dan mengabaikan aspek-apek lain akan menyebabkan kemajuan yang timpang. Maju di bidang bangunan infrastruktur akan tetapi malah menghancurkan kekayaan flora dan fauna. Ini sama saja tidak menambah nilai.

Melihat Indonesia merupakan negara yang kaya raya akan sumber daya alam dan manusianya, maka kebijakan pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah harus bisa menjaga kelangsungan alam. Mempertimbangkan aspek kedepannya agar bisa dimanfaatkan dalam jangka waktu yang lama. Dan yang tidak kalah penting adalah bagaimana sumber daya yang terbatas ini dapat dinikmati oleh generasi berikutnya. Karena negara kita diprediksi akan mengalami bonus demografi ditahun 2030 maka  kelangsungan alam sudah bisa diperhatikan mulai dari sekarang.

Penulis juga berharap Negara kita bisa serius menerapakan sistem Sustainable Development Goals atau pembangunan berkelanjutan. Agenda pembanguan bersama yang dicanangkan oleh PBB pada tahun 2015 hingga tahun 2030. Konsep ini bertujuan untuk membangun kemaslahatan manusia dan menjaga planet bumi. Terdiri dari 17 tujuan mulai dari (1) air bersih, (2)sanitasi layak, (3)energy bersih dan terjangkau, (4)pekerjaan layak dan perumbuhan ekonomi, (5)penanganan perubahan iklim, (6)ekosistem laut, (7)ekosistem daratan, (8)kemitraan untuk mencapai tujuan, (9)perdamaian, keadilan, kelembagaan yang tangguh, (10)konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab, (11)kota dan komunitas berkelanjutan, (12)berkurangnya kesenjangan, (13)industry, inovasi, infrastruktur, (14)pendidikan berkualitas, (15)kehidupan sehat dan sejahtera, (16)tanpa kelaparan, (17)tanpa kemiskinan.

Representasi etika  akan berupaya merefleksikan fungsi dan tujuan dari kebijakan pembangunan itu sendiri. Sehingga setiap actor yang terlibat harus  mampu mengkalkulasikan apakah nantinya akan berdampak pada kemajuan atau sebaliknya, apakah menguntungkan atau merugikan, apakah menambah suatu nilai atau tidak. Dengan masuknya etika sebagai refleksi krtitis membuat pembangunan tidak lari dari konsepnya untuk mensejahterakan manusianya  baik dari aspek ekonomi, sosial, politik dan tetap menjaga kelangsungan lingkungan, kelestarian flora/fauna di alam.

Rusaknya keragaman hayati dan hewani di alam berdampak besar bagi kehidupan manusia. Alam menjadi ladang produksi sandang dan pangan atau alam adalah rumah manusia itu sendiri. Bahkan bagi sebagahagian masyarakat menganggap bahwa alam adalah sumber kehidupan materi dan ilahi. Itulah karena begitu besarnya pengaruh dan eratnya keterikatan alam dengan manusia. Lindungi alamnya untuk Indonesia di masa depan

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com