UNJA ADAKAN PELATIHAN MANAJEMEN ISQM TERPADU

GANDENG PUI-PT SIFAS, TIM PPUD (Pengembangan Produk Unggulan Daerah)

PENGEMBANGAN Produk Unggulan Daerah (PPUD) merupakan salah satu skim pengabdian pada masyarakat (PPM) multi tahun kompetitif nasional dari DRPM (Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. Pada tahun 2020 proposal dengan judul Bisnis Jasa Investasi Syariah Qurban Murah (ISQM) untuk Kemandirian dan Keberlanjutan Input Produk Unggulan Kawasan Perdesaan (Prukades) Dataran Kempas ini merupakan satu-satunya program PPM multi tahun yang disetujui pendanaan oleh DRPM Dikti dengan jangka waktu 3 tahun (2020 – 2022).

Menurut ketua pelaksana kegiatan Dr. Ir. Ardi Novra, M.P., program ini bertujuan untuk mengatasi permasalahan pasokan limbah kandang ternak sapi yang menjadi salah satu bahan baku utama pupuk kompos pada kelompok tani Karya Trans Mandiri (KTM) sebagai mitra binaan. Bahan baku usaha pupuk kompos kelompok yang telah menghantarkan Desa Dataran Kempas sebagai peraih penghargaan Desa Rawan Karhutla kategori Program Kampung Iklim Utama dari Kementerian LHK ini dalam proses produksinya menggunakan 30% limbah padat kandang sapi dan limbah lainnya yaitu sisa kupasan buah (jangkos) 30%, abu sisa pembakaran 20%, dan rajangan pelepah segar 20%.

Sampai awal tahun 2020 terdapat 3 produsen utama pupuk kompos (PUPK) dengan kapasitas produksi masing-masing mencapai 1.000/ton/bulan. Besarnya kebutuhan bahan baku ini menyebabkan persaingan antar PUPK termasuk dengan kelompok usaha sejenis di Desa Purwodadi (2 PUPK) dan Delima (2 PUPK) yang mendorong pada kenaikan harga akibat langkanya bahan baku dan berimbas pada naiknya biaya produksi.

Pada sisi lain, pasar monopsoni atau pembeli tunggal (> 90% diserap PT. WKS) yang dihadapi menyebabkan posisi tawar kelompok PUPK sangat rendah sehingga harga output tidak serta merta dapat disesuaikan dengan kenaikan biaya produksi. Implikasinya adalah margin keuntungan semakin rendah dan bahkan sejak akhir Desember 2019 pasokan kepada pembeli tunggal terhenti dan hasil negosiasi yang tidak berimbang dan berlangsung lama (disepakati awal Juli 2020) malah makin merugikan kelompok PUPK.

Harga jual pupuk kompos yang awalnya Rp. 1.170/kg turun menjadi Rp. 850/kg dan diikuti penurunan volume pembelian yang awalnya 1.000 ton/bulan menjadi hanya 700 ton/bulan untuk 3 kelompok. Kelompok tani KTM yang memiliki stock pupuk kompos sekitar 700 ton mendapatkan quota 200 ton yang artinya masih tersisa sekitar 500 ton.

Program PPUD Universitas Jambi dimaksudkan untuk mencoba mencari solusi pemecahan masalah pada kelompok yang mampu menyerap 57 orang tenaga kerja ini melalui pendekatan tata kelola rantai pasok (Supply Chain Management). Pelatihan yang diadakan atas kerjasama dengan kelompok tani KTM selama dua hari ini merupakan bagian dari memberi pemahaman kepada para petani tentang pentingnya tatakelola rantai nilai (value chain management) untuk bertahan dan bersaing dalam dunia bisnis dan pasar yang terbuka.

Untuk itu, kegiatan pelatihan diawali dengan materi yang disampaikan oleh Dr. Ade Octavia, S.E., M.M., dengan topik “Manajemen Usaha dan Rantai Pasok”. Anggota pelaksana PPUD dan sekaligus Ketua LPPM Universitas Jambi ini dalam pemaparannya menyampaikan bahwa pada dasarnya sekarang petani dengan kelompoknya secara tak sadar sudah menjalankan fungsi-fungsi manajemen tetapi masih belum tertata dengan baik.

Untuk itulah menurut Doktor Ilmu Manajemen ini kita untuk menatanya agar lebih terstruktur agar tujuan kelompok dapat tercapai tanpa mengabaikan tujuan pribadi kita terlibat dalam kelompok. Salah satu teori manajemen yang banyak digunakan saat sekarang adalah tatakelola atau manajemn rantai pasok karena melalui tata kelola seperti ini akan mampu diperoleh berbagai jenis nilai tambah sehingga usaha akan semakin efisien dan keuntungan akan meningkat.

Masih pada sesi pertama, pelatihan yang dipandu oleh Dr. Ir. Mairizal, M.Si., dilanjutkan dengan pemaparan dari Dr. Ir. Depison, M.P., dengan topik “Teknik Seleksi Ternak Sapi Bakalan”. Ahli genetika dan pemuliaan dari Fakultas Peternakan Universitas Jambi ini memaparkan bahwa seleksi merupakan suatu keharusan terutama dalam usaha penggemukan sapi karena akan sangat menentukan produktivitas dalam hal ini pertambahan bobot badan harian ternak sapi yang dipelihara.

Menurut Wakil Dekan III Fakultas Peternakan Unja ini tersedia banyak teknik atau cara yang dapat digunakan dalam seleksi ternak sapi bakalan. Cara yang paling sederhana adalah dengan melihat penampilan atau ciri-ciri eksterior sapi bakalan yang baik yaitu jika Sapi Bali memenuhi kriteria warna hitam atau hitam kemerahan, tidak belang, tidak ada bintik putih, kaki, pantat warna putih). Ciri lainnya adalah tulang/rangka besar, kepala pendek/persegi, leher pendek dan badan terlihat seperti segi empat panjang.

Materi selanjutnya disampaikan oleh Prof. Dr. Adriani, M.Si., dan Dr. Ir. Suparjo, M.P.,  dengan materi masing masing tentang Teknologi Pengolahan Limbah Terpadu dan Manajemen Penggemukan Sapi Potong Berbasis Rajangan Limbah Pelepah Sawit.

Limbah kandang menurut Prof. Dr. Ir. Adriani, M.Si., berupa limbah padat berupa kotoran ternak yang bercampur dengan sisa hijauan pakan ternak sapi dan dapat diolah menjadi pupuk kompos dengan dikombinasikan dengan berbagai jenis limbah lainnya seperti; abu sisa pengolahan Pabrik Kelapa Sawit, tandan buah kosong atau yang lebih dikenal dengan tangkos serta limbah tanaman hasil rajangan pelepah sawit.

Penggunaan berbagai jenis limbah ini diberi perlakuan fermentasi dengan menggunakan mikroorganisme dan salah satunya adalah Probio-AFE yang diproduksi oleh para peneliti LPPM Unja. Hal yang sama dengan limbah cair yaitu urine sapi yang dikumpulkan, dapat diolah menjadi pupuk cair yang biasa disebut dengan Biourine.

Penambahan empon-empon dan gula merah kemudian dilakukan aerasi dan fermentasi dengan EM4 akan menghasilkan pupuk cair yang lebih baik yaitu Biourine A Plus. Kedua teknologi hasil racikan para peneliti LPPM Unja ini akan diterapkan pada Desa Dataran Kempas dan dapat menjadi sarana edukasi untuk pengembangan pertanian organik ramah lingkungan. Limbah kandang yang dikumpulkan berasal dari kandang usaha penggemukan ternak sapi yang dalam budidayanya akan menerapkan praktek-praktek baik (Good Fattening Practice) berbasis pada pakan limbah pelepah sawit. Bagaimana model GFP ini diterapkan, selanjutnya akan dijelaskan secara rinci oleh Dr. Ir. Suparjo, M.P.

Menurut Dosen Fakultas Peternakan UNJA ini, bahwa potensi besar limbah pelepah sawit selain dapat digunakan sebagai campuran bahan baku produksi pupuk kompos juga sangat potensial untuk memenuhi kebutuhan pakan ternak sapi penggemukan. Pelepah sawit yang biasanya dibiarkan tergeletak disekitar pohon sawit terlebih dari harus dirajang dengan menggunakan mesin Chopper.

Hasil rajangan dapat diberikan secara langsung kepada ternak sapi, tetapi sebaiknya dilakukan proses pengolahan terlebih dahulu untuk meningkatkan nilai gizi dan palatabilitas (kesukaan ternak) terhadap bahan  pakan. Selama ini rajangan pelepah sawit biasa diolah untuk menjadi pakan suplemen dalam bentuk Wafer Ransum Komplit yang dicampur dengan berbagai konsentrat seperti dedak padi dan ampas tahu serta dicetak dalam bentuk wafer atau balok dengan memanfaatkan gula merah sebagai perekat.

Proses produksi ini lebih rumit sehingga dalam prakteknya nanti kita akan lebih fokus untuk mengembangkan fermentasi rajangan pelepah sawit dengan menggunakan mikroorganisme (EM4) yang dilarutkan dalam cairan gula merah. Hasil fermentasi akan lebih mudah digunakan dan produksi dalam skala besar  sesuai kebutuhan ternak sapi, kandungan gizi akan lebih tinggi, daya cerna lebih baik serta memiliki palatabilitas yang lebih tinggi karena aroma wangi hasil fermentasi.

Seluruh materi dalam kegiatan pelatihan ini menurut  Dr. Ir. Ardi Novra, MP yang tampil terakhir kalinya akan menjadi teknologi pendukung dalam program ISQM yang merupakan program kemitraan antara Tim PPUD Unja dan Kelompok Tani Karya Trans Mandiri. Kelompok Tani KTM yang nantinya berperan sebagai Lembaga Perantara dan Pemasok Sapi Qurban harus mampu menyediakan pasokan sapi untuk para investor (peserta qurban) yang memenuhi syarat baik dari aspek syari, umur, kuantitas maupun kualitas ternak sapi.

Program ISQM menurut Ketua Pelaksana PPUD ini merupakan program baru dengan menggunakan prinsip bagi hasil atau dikenal dengan profit-loss sharing yang sesuai dengan syariat Islam. Target sasaran program adalah calon peserta qurban yang akan menginvestasikan dana qurbannya untuk mendapatkan ternak sapi qurban terbaik dan sesuai harapan mereka.

Para investor (partisipan) harus mendapatkan layanan yang memuaskan sehingga jumlah peserta akan meningkat dari tahun ke tahun sehingga skala usaha dan imbal hasil berupa jasa atau keuntungan usaha dapat ditingkatkan secara berkelanjutan. Cara-cara baik dengan dukungan manajemen dan teknologi dalam usaha harus diterapkan secara benar sehingga dengan manajemen ISQM yang baik akan memberikan kepercayaan besar dan tentu saja ini akan menjadi iklan atau promosi terbaik.

Sebagai lembaga perantara yang menyediakan jasa layanan bagi peserta qurban harus memahami manajemen waktu dan resiko dalam usaha sektor jasa ini. Program ini tidak hanya bermanfaat bagi peternak, penyedia jasa dan peserta qurban tetapi juga diharapkan dengan adanya perubahan perilaku masyarakat akan mendorong terciptanya harga komoditas sapi potong yang stabil (stabilisasi harga) serta memberi peluang bagi investor untuk dapat berpartisipasi dalam program pemberdayaan masyarakat khususnya para peternak sapi potong.

Permainan harga oleh para “pedagang” akibat permintaan yang menumpuk pada waktu yang bersamaan dapat diminimalisir dan harga ternak sapi tidak “meroket” secara tiba-tiba. Peternak akan mendapatkan kepastian usaha karena selama ini kenaikan harga pasar akan diikuti dengan kenaikan harga ternak sapi bakalan, sehingga keuntungan yang diperoleh peternak salam satu periode penggemukan merupakan keuntungan semu.

Ringkasnya menurut penggagas program ISQM bahwa melalui program ini akan memberikan keuntungan tidak hanya bagi peternak, manajemen ISQM dan peserta qurban tetapi juga akan membantu pemerintah dalam upaya pemberdayaan umat dan stabilisasi harga komoditas sapi potong.

Pasca pemaparan seluruh materi, pelatihan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab selama lebih kurang satu jam dan diakhir dengan foto bersama. Semoga memberi manfaat dan program ISQM itu juga dapat dikembangkan pada kelompok tani lainnya dan menjadi ladang bisnis menjanjikan bagi para wirausaha baik perorangan maupun lembaga.

Dana ummat (peserta qurban) yang begitu besar sebelum benar-benar digunakan untuk membeli ternak sapi qurban dapat digunakan untuk memberdayakan para peternak yang selama ini kekurangan modal, kelompok dapat menjadi fasilitator dan peran perguruan tinggi sebagai abdi masyarakat dapat menjadi solusi berbagai persoalan sosial ekonomi yang dihadapi pemerintah.

Ardi Novra, Adriani, Ade Octavia dan Depison

 

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com