KETERAMPILAN MENULIS BUKAN HANYA UNTUK ORANG MEDIA SAJA

Menulis bukanlah kemampuan yang datang secara ajaib. Bukan seperti sihir Harry Potter atau tukang sulap yang bisa mengeluarkan seekor kelinci dari dalam topi. Kemampuan menulis adalah salah satu skill penting untuk diasah.

Kamu mungkin berpikir, “Tentu saja, Dia (bisa seoarang teman atau saudara). Bekerja di industri media jelas butuh kemampuan menulis.” Ya, kamu memang benar. Tapi dalam praktiknya, kemampuan menulis adalah skill dasar yang bakal terpakai di mana pun, terlepas bidang pekerjaan yang kamu geluti dan jabatan yang kamu duduki saat ini.

  1. Blogger
  2. Pengusaha
  3. Karyawan
  4. Pelajar dan mahasiswa

Kemampuan menulis yang buruk bisa membuat sebuah pesan tak tersampaikan, ambigu, hingga membuat instruksi sederhana jadi rumit dan sulit dimengerti. Belum jelas juga siapa yang mengatakannya, tapi saya selalu ingat dengan kalimat ini, “A well defined problem is half solved.

Mendefinisikan masalah adalah satu hal, namun mengomunikasikan masalah tersebut adalah tantangan berat yang saya lihat banyak orang alami tiap hari. Dalam sebuah rapat misalnya, dua pihak bisa berdebat masalah yang berbeda. Namun mereka tidak sadar sedang membahas topik yang sama.

Menulis adalah sebuah bentuk komunikasi yang menggambarkan pola pikir atau logika seseorang. Jika orang tersebut punya cara berpikir yang rumit, maka hal itu akan tergambarkan baik dari cara ia menulis atau berbicara. Itulah mengapa berlatih menulis, juga akan melatih cara berpikir.

Begitu cara berpikir kamu makin tajam (kritis), maka kemampuan kamu berkomunikasi akan meningkat.

Apa yang akan kamu temukan di sisa tulisan ini adalah sebuah panduan dalam menulis. Lakukan hal-hal di bawah ini, dan kamu akan mulai menulis dengan lebih baik.

Mulai Dengan Tujuan Utama

Saya biasanya menuliskan apa yang jadi tujuan utama saya, dan kemudian mencetaknya dengan huruf tebal. Ini membantu saya tetap fokus kepada tujuan. Ketika saya sudah cukup panjang menulis, saya akan sesekali melihat ke awal tulisan untuk mengingat kembali tujuan utama.

Apa yang harus disampaikan biasanya terdiri dari beberapa kalimat saja. Namun sering kali  kalimat ini diperpanjang menjadi beberapa paragraf hingga mengalihkan fokus pembaca dari pesan utama. Selama Kamu Menulis, Ingat Kembali Tujuan Utama Kamu Dari Waktu ke Waktu. Biarkan Kata Yang Berbicara.

Kebanyakan dari kita hanya menulis apa yang ada di pikiran tanpa pikir panjang. Saya bisa berpendapat bahwa hal itu saja tak akan cukup. Kita perlu menelaah kembali pemilihan kata-kata, serta membiarkan kata-kata itu melakukan tugas mereka.

Mari kita lihat sebuah contoh.

Seorang manajer menulis email untuk menyampaikan keputusan melakukan pivot produk yang harus dilakukan perusahaannya.

Melakukan pivot pada produk kita adalah hal yang penting untuk dilakukan selama pandemi ini. Harapannya adalah kita dapat bertahan dan bersama-sama melalui masa yang sulit ini.

Coba bandingkan dengan,

Melakukan pivot pada produk kita bisa membuat perbedaan besar. Saya optimistis kita bisa tumbuh secara konsisten serta menstabilkan kondisi perusahaan dengan fokus pada produk yang terbukti dibutuhkan pengguna.

Saya menghabiskan waktu lebih dari 8 menit serta melakukan 6 kali perombakan untuk menuliskan pesan kedua. Saya percaya dan yakin kamu bisa membuat pesan yang memiliki tujuan sama dan bahkan lebih baik lagi, jika kamu menghabiskan cukup waktu.  Apa yang saya coba sampaikan disini adalah, menulis sesuatu hanya berdasarkan apa yang ada di kepala versus secara sengaja dan hati-hati merancang sebuah pesan bisa membuat perbedaan besar.

Sekarang mari kita bedah sedikit perbedaan dua pesan di atas.

Pesan pertama mengatakan pivot pada produk adalah hal yang penting, namun tidak diikuti dengan informasi tambahan. Selain itu, pemilihan kata “harapan” juga terasa kurang menyakinkan.

Pesan kedua mengambil pendekatan berbeda.

Saya mengatakan bahwa pivot pada produk bisa membuat perbedaan besar. Mengambil pendekatan ini memberikan pesan bahwa melakukan dan tidak melakukan pivot punya hasil berbeda. Penggunaan kata “optimistis”, “konsisten”, dan “stabil”. Ketiga kata ini punya makna lebih mendalam dan memberi ketenangan.

Muhammad Jamil

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com