TRAGEDI ANAK DUNIA : PANDEMI COVID-19

Pandemic Covid-19 menjadi petaka dunia yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya oleh semua orang di seluruh dunia. Banyak dampak yang timbul dari fenomena covid-19 yang muncul pertama kali provinsi wuhan, China. Dan dampak negatif yang muncul dari fenomena ini sangat beragam, dan hampir menyerang semua aspek kehidupan. Ekonomi, politik, social, kesehatan dan pendidikan.

Dampak yang ditimbulkan dari fenomena covid-19 ini tidak bisa dibilang enteng. Terutama yang menimpa anak-anak dan remaja 20 tahun ke bawah. Menurut Unicef, pada hari peringatan anak dunia atau Children World’s Day pada 20 November 2020 mengungkapkan bahwa Pandemic covid-19 dapat menimbulkan kerusakan yang sangat parah bagi kehidupan anak-anak atau kerusakan yang tidak dapat dirubah “irreversible harm” terhadap kesehatan, pendidikan dan nutrisi bagi anak di seluruh dunia.

Muncul tiga dampak utama dari pandemic covid-19 atau yang dikenal dengan trifecta of threats, dan itu berdampak langsung terhadap anak-anak di seluruh dunia yang mengancam terjadinya lost-generation, yang mana tiga ancaman tersebut ; konsekuensi dari virus itu sendiri, terganggunya pelayanan yang esensial bagi anak-anak seperti layanan pendidikan dan kesehatan, dan meningkatnya kemelaratan “poverty” dan ketidaksetaraan “inequality” yang semakin meluas.

Tiga hal tersebut, yang menjadi konsen utama dari organisasi dunia UNICEF, dan meminta pemimpin seluruh dunia untuk mengatasi masalah tersebut. Karena dikhawatirkan yang dampak dari Irreversible harm ini akan menjadi polemik berkepanjangan. Walaupun pada akhirnya pandemic ini berakhir, polemic tersebut akan terus memberikan penderitaan bagi anak-anak di seluruh dunia.

Disamping kemerosotan dalam aspek ekonomi dengan semakin menjalarnya kemelaratan dan ketidaksetaraan di tengah masyarkat, aspek kesehatan dan nutrisi juga menjadi permasalahan yang cukup serius untuk segera diatasi. Berdasarkan data yang dirilis oleh UNICEF, tercatat ada sekitar 10.000 angka kematian tiap bulannya yang terjadi di Afrika dan Asia dikarenakan malnutrisi akut. Maka dari itu UNICEF yang merupakan anak organisasi PBB yang salah satunya membidangi kesejahteraan anak di dunia menghimbau agar setiap Negara memberikan perhatian dan tindakan segera dalam menanggulangi krisis kesehatan disini, terutama bagi anak-anak dan lansia.

Dunia pendidikan juga mengalami goncangan yang sangat besar. Tercatat hingga November, terdapat sekitar 572 juta anak di seluruh dunia merasakan dampak covid-19 dengan ditutupnya sekolah-sekolah. Membuat sekolah mencari cara alternative dalam melaksanakan proses pembelajaran, salah satunya dengan menerapkan pendekatan pembelajaran virtual atau e-learning. Meskipun pada awalnya seluruh dunia ter gagap-gagap dalam menerapkan system pembeljaran digital ini. Proses pendidikan harus terus dilaksanakan, dan tidak ada cara lain yaitu dengan menerapkan pembelajaran jarak jauh. Mulai dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi di seluruh dunia. Dan ini merupakan upaya agar siswa tetap terhubung dalam proses belajar mengajar dengan memanfaatkan fasilitas digital.

Terkhusus di Indonesia, muncul berbagai masalah yang baru dari pelaksanaan pembelajaran jarak jauh disini, baik dari hal teknis seperti kurang memadainya fasilitas penunjang seperti jaringan internet yang tidak tersebar ke seluruh pelosok negeri dan tidak semua siswa memiliki perangkat elektronik yang memungkinkan mereka untuk ikut serta dalam proses pembelajaran. Dan yang lebih menjadi perhatian ialah, tidak tersampaikan dengan baik substansi dari materi pelajaran yang diajarkan.

Dan ini menjadi kekhawatiran tidak hanya dari para guru, akan tetapi juga orang tua siswa yang mengkhawatirkan perkembangan intelegensi anak-anaknya. Disamping hal intelegensi terdapat hal lain yang menjadi kekhawatiran guru dan para orang tua. Yaitu perkembangan emosional dan kemampuan bersosialisasi anak-anak. Dikhawatirkan fenomena ini akan menciptakan satu generasi yang kehilangan kemampuan untuk meningkatkan potensi akademis, emosional dan social nya.

Peran penuh dari para stake-holder sangat diharapkan terus berupaya semaksimal mungkin untuk menyelamatkan generasi ini dari ancaman lost-generation. Guru, orang tua, pemerintah harus terus melakukan komunikasi yang intensif agar mampu mencari solusi dan langkah-langkah yang tepat serta mencari hikmah dibalik pandemi ini. Pepatah tua mengatakan, dari setiap masalah akan muncul hikmah yang akan meningkatkan keimanan, kualitas diri dan kemampuan beradaptasi.

Secercah harapan akan tetap ada bagi generasi ini sebagai dorongan yang kuat untuk melalui krisis kompleks global saat ini. Pepatah tua yang lain mengatakan manusia mampu hidup tanpa makanan, tapi tanpa harapan manusia akan musnah. Besar harapan kita terhadap generasi yang akan datang agar mampu menciptakan kehidupan yang jauh lebih baik, lebih seimbang, dan lebih mengedepankan moral dan akhlak dalam berperilaku. Dan akan lahir generasi yang jauh lebih kuat, lebih hebat, lebih cakap dari generasi yang pernah ada sebelumnya.

Istilah Sophisticated-generation cocok untuk disematkan pada generasi ini, yang kita harapkan mampu bertahan dalam krisis global ini dan membuat loncatan peradaban dengan sangat pesat. Sebelum pandemi covid-19 menyerang seluruh dunia, ada stigma Millenial Kills Everything, milenial menyebabkan banyak permasalahan. Dengan peran guru, orang tua dan pemerintah yang lebih serius lagi dalam menyelamatkan generasi ini dari kemunduran yang terus mengancam. Akan terciptanya generasi Sophisticated-generation dan menghilangkan stigma negative tersebut. Akan muncul generasi dengan stigma Millenial Saves Everything.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

78  +    =  87

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com