Pewarta: Dimas Anugrah Adiyadmo
Foto: ist*

Editor: Mochammad Farisi
Copyright © HUMAS UNJA 2024

 

JAMBI,- ‘Tuntutlah Ilmu Setinggi Langit’, sebuah peribahasa yang mengiaskan seperti langit tidak dapat diukur dan sangat luas, sama halnya dengan belajar yang tidak memiliki batasan. Itulah gambaran dari semangat belajar Bejujung dan Besiar, 2 mahasiswa Program Studi D3 Agrobisnis Universitas Jambi (UNJA) asal Suku Anak Dalam (SAD) yang telah menyelesaikan studinya pada 5 Juli 2024 kemarin dalam ujian laporan PKL.

Dalam tugas akhirnya, Bejujung mengangkat penelitian mengenai ‘Manajemen Produksi Obat Herbal Suku Anak dalam Kelompok Ubat Pusako Desa Pematang Kabau Kecamatan Air Hitam’. Sedangkan Besiar mengangkat penelitian dengan judul ‘Manajemen Pemasaran Obat Herbal oleh Kelompok Ubat Pusako Desa Pematang Kabau Kecamatan Air Hitam Kabupaten Sarolangun’.

Bejujung berbagi kisahnya tentang bagaimana ia merasa bangga sebagai perwakilan SAD telah menyelesaikan pendidikan tinggi walau sebelumnya ditentang orang tua.

“Senang sekali akhirnya bisa dinyatakan lulus dan menyandang gelar, itu suatu kebanggaan bagi saya dan tentunya Suku Anak Dalam sendiri. Dulu orang tua melarang sekolah, tetapi berjalannya waktu sekarang orang tua sudah mulai mendukung anaknya sekolah,” ungkap Bejujung.

 

Ia pun menyatakan bahwa ia tidak mengalami kendala apa pun selama berkuliah di UNJA, dan akan memotivasi adik-adiknya di dalam rimba untuk mengenyam pendidikan yang sama.

“Sejauh ini kuliah di UNJA, Alhamdulillah tidak ada kendala apa pun karena dosen pembimbing akademik sangat mendukung kami kuliah dan akhirnya sampai selesai. Saya terus berikan motivasi kepada adik-adik kami khususnya di dalam rimba terus mendukung dalam hal pendidikan,” ujarnya.

Senada dengan Bejujung, Besiar juga berbagi perasaannya telah menyelesaikan pendidikan tinggi di UNJA.

“Untuk perasaan tentu saja senang udah bisa lulus, kalau masalah keluarga tentu senang, tapi saya belum pulang untuk bertemu mereka. Mungkin saya bisa menjadi sebagai contoh untuk adik-adik yang blm mengenal dunia luar,” tutur Besiar.

Bejujung dan Besiar sudah menjadi sahabat setia selama lebih dari 12 tahun semenjak SD. Sama-sama berasal dari hutan Desa Bukit Suban, Kecamatan Air Hitam, Sarolangun, jenjang pendidikan yang meraka tempuh pun juga selalu sama.

Pendidikan mereka dimulai di SDN 191 Pematang Kabau, berlanjut ke SMP Satu Atap 01 Sarolangun. Namun pada jenjang SMA, mereka pernah sampai pindah sekolah sampai 3 kali. Bejujung menuturkan bahwa kendala biaya sekolah yang menjadi penyebab utamanya sempat terhenti dan pindah sekolah.

Waktu itu belum ada bantuan biaya dari pihak swasta maupun pemerintah, sampai pada kelas 3 SMA lah baru ada bantuan biaya pendidikan dari PT. Sari Aditya Loka 1 (PT.SAL 1), sebuah perusahaan perkebunan dan pengolahan kelapa sawit yang berpusat di Desa Muara Delang, Merangin.

Bantuan biaya pendidikan tersebutlah yang akhirnya bisa membawa mereka sampai ke UNJA. Setiap bulannya mereka mendapatkan bantuan dari perusahaan kelapa sawit tersebut di luar biaya kuliah.

Orang tua mereka pun kini sudah tidak lagi tinggal di dalam rimba, karena telah memiliki rumah di pinggiran/perbatasan antara rimba dan pemukiman warga. Rumah tersebut merupakan bantuan dari Kementerian Sosial yang dikhususkan kepada SAD yang ingin keluar dari rimba.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Name *